31 C
Kudus
Senin, Oktober 25, 2021
spot_img
BerandaEkonomiPerekonomian di Kampung...

Perekonomian di Kampung Batik Semarang Kembali Menggeliat

BETANEWS.ID, SEMARANG – Pelonggaran PPKM di Kota Semarang berdampak positif kepada pengrajin batik yang ada di Kampung Batik Semarang. Setelah beberapa bulan yang lalu mengalami penurunan omzet yang cukup tajam, kini perekonomian mereka mulai menggeliat.

Salah satu Pengrajin batik, Iin mengatakan, sejak Kota Semarang turun menjadi level 2, sudah ada beberapa pembeli yang datang ke tokonya meski jumlahnya tak banyak.

“Ya minimal kebutuhan sudah tak ditanggung suami semua,” jelasnya saat ditemui di tokonya, Jumat (17/9/2021).

- Ads Banner -

Selain itu, sejak dibukanya kembali Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Kota Semarang membuat batiknya banyak dibeli oleh pelajar yang masuk sekolah.

Baca juga: Tak Kuat Bertahan saat Pandemi, Beberapa Pengrajin di Kampung Souvenir Semarang Gulung Tikar

“Ada juga beberapa siswa yang beli, kan sekolahannya juga sudah masuk, jadi ada beberapa yang beli,” ujarnya.

Iin mengungkapkan, sebagian besar pembatik di Kampung Batik Semarang mengandalkan para wisatawan yang membeli oleh-oleh di tempat mereka.

Namun sejak 2020 lalu seiring dengan dibuka-tutupnya PPKM, menurutnya, para pengrajin dan pedagang kesulitan dalam memasarkan produk.

“Hal itu disebabkan karena tidak adanya wisatawan yang berkunjung ke Kota Lumpia tersebut,” paparnya.

Di samping itu, kata dia, pihaknya yang semula juga mengandalkan instansi-instansi yang memesan batik untuk seragam, kini belum kembali seperti semula.

Baca juga: Dulu Masyhur, Begini Nasib Pasar Logam Terbesar di Jateng Era 70an

“Kebanyakan dulu itu pesanan dari Pemkot, ada dari BUMN, ini belum ada. Jadi dampaknya besar sekali, kami kesulitan menjual batik,” jelasnya.

Menurut Iin, beberapa upaya sebelumnya sempat dilakukan agar usaha bisa bertahan di tengah pandemi ini, seperti memproduksi masker batik dan mengisi kegiatan pelatihan.

“Seiring dengan menjamurnya usaha masker dan pembatasan untuk berkerumun, upaya tersebut kini dihentikan,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,023PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
62,220PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler