Dulu Masyhur, Begini Nasib Pasar Logam Terbesar di Jateng Era 70an

BETANEWS.ID, SEMARANG – Suara benturan logam terdengar saling bersautan dari Pasar Logam yang berada di dekat Banjir Kanal Timur, Kota Semarang, Selasa (7/9/2021). Meski tak seramai dulu, beberapa warga terlihat masih menggantungkan penghidupannya di tempat yang dulu menjadi pasar khusus logam terbesar di Jawa Tengah itu.

Salah satu penjual logam, Kusmiati (52) mengatakan, di kawasan yang terkenak dengan sebutan Barito itu memang pernah menjadi pasar logam terbesar di Jateng sekitar 1970an. Namun, kejayaan itu hilang sejak Pasar Barito itu dipindah ke Pasar Johar Baru dan Pasar Penggaron.

Para pekerja sedang membuat peralatan rumah tangga. Foto: Dafi Yusuf.

“Dulu banyak yang pesan. Bahkan saya sampai ambil ke penjual lain. Namun setelah dipindah jadi sepi,” jelasnya saat ditemui di lokasi.

-Advertisement-

Baca juga: Meski Sudah Dilonggarkan, Pelaku Wisata di Kota Lama Masih Kesulitan Jualan

Menurutnya, sebelum dilakukan pembongkaran, nyaris di sepanjang jalan kawasan itu terpajang rapi peralatan rumah tangga berbahan logam. Dulu, perkakas yang paling banyak dipajang adalah kompor minyak, lalu ada oven, ceret, dandang, wajan, mesin penggiling, dan banyak pernak-pernik logam lainnya.

Menurutnya, banyak pelanggan yang bingung karena lokasi penjual logam yang berasal dari Barito dipindah ke dua lokasi. Selain itu, lokasi untuk jualan di tempat yang baru juga tak strategis.

“Jadi kalau saya untung punya rumah, jadi bisa jualan di depan rumah,” ujarnya.

Baca juga: Mengenal Tan Tiong Ie, Pengusaha Kopi dan Crazy Rich di Jawa Era Kolonial

Dia juga mengakui kalau masa kejayaan perkakas logam di Barito agaknya sudah mulai turun. Bahkan, selama menjalani bisnis ini penjualan produk-produk bikinannya juga sudah berkali-kali mengalami pasang surut.

“Bisnis ya kadang ramai, kadang sepi, apalagi semenjak Barito digusur,” ungkapnya sembari melayani pembeli.

Selain memproduksi pernak-pernik logam untuk rumahan, di tempat itu pula juga terdapat produsen kompor minyak yang sempat ramai sebelum adanya kompor gas.

“Saya dulunya juga membuat kompor minyak, sampai banyak karyawan. Namun karena ada kompor gas jadi tak jual semua,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER