Penurunan Tanah di Tambaklorok Disebut Sudah Sampai 30 Cm per Tahun

BETANEWS.ID, SEMARANG – Berdasarkan penelitian University of Amsterdam dan IHE-Delft Institute for Water Education, Kota Semarang mengalami penurunan tanah 10 hingga 15 tahun setiap tahunnya.

Menanggapi penelitian tersebut, Warga RT 9 Rw 15 Kampung Tambaklorok, Tanjung Mas, Semarang Utara, Amron S menyebut jika daerah Tambaklorok sudah mengalami penurunan tanah 30 sentimeter pernah tahun.

“Semakin bertambah, tahun kemarin 20 sentimeter per tahun. Sekarang sudah sampai 30 sentimeter setiap tahunnya,” jelasnya saat ditemui di rumahnya, Kamis (9/2/2021).

-Advertisement-

Amron hanya bisa pasrah. Selama 26 tahun tinggal di Tambaklorok, satu rumah habis sudah. Kini dia hanya memanfaatkan atap sebagai tempat tinggal keluarganya.

Baca juga: Anggota DPRD Sebut Penurunan Tanah di Semarang Disebabkan Reklamasi

“Rumah saya dulu yang lantai satu itu sekitar 6 meter tingginya dan sekarang hanya tinggal atapnya saja,” ujarnya.

Jika mempunyai rejeki lebih, Amron mempunyai keinginan untuk meninggikan rumahnya agar lebih tenang.  Selain rumahnya ambles, sewaktu-waktu rumah Amron juga bisa terkena rob.

“Sini kan daerah sering terkena rob, jadi kalau keadaanya seperti ini rumah-rumah ini bisa terendam rob semua,” katanya.

Peneliti tata kelola air dan kota University of Amsterdam, Bosman Batubara mengatakan, ketergantungan pada air tanah relevan dengan pengelolaan banjir karena pengambilan air tanah yang berlebihan.

“Dari akuifer tertekan dapat menyebabkan terjadinya amblesan tanah (land subsidence),” jelasnya beberapa waktu yang lalulalu melalui zoom meeting.

Menurutnya, penurunan tanah berdampak pada peningkatan risiko banjir. Banjir yang dimaksud adalah bajir lokal akibat curah hujan di satu lokasi melebihi kapasitas sistem drainase yang ada.

“Yang kedua yaitu banjir rob yang terjadi akibat aliran dari air pasang atau aliran balik dari saluran drainase akibat terhambat oleh air pasang,” ujarnya.

Baca juga: Penurunan Tanah di Semarang Sudah Terjadi Sejak 1980, Ini Sebabnya

Beberapa penyebab amblesnya tanah selain pemanfaatan air tanah berlebihan adalah pembebanan bangunan, kompaksi (pemadatan) tanah aluvial, aktivitas tektonik. Selain itu, pengerukan berkala yang dilakukan di Pelabuhan Tanjung Emas juga membuat sedimen di bawah Kota Semarang bergerak ke arah laut.

“Penyedotan air tanah berlebihan biasanya menyebabkan terjadi amblesan tanah dalam skala luas sedangkan pembebanan bangunan menyebabkan amblesan yang lebih lokal,” katanya.

Bahkan, ketergantungan air tanah untuk kebutuhan air sehari-hari sampai 79,7 persen. Dari 79,7 persen tersebut, sebanyak 48.6 persen menggunakan air tanah dalam (ATDm) dan 31.1 persen menggunakan air tanah dangkal (ATDl).

“Kami menemukan di  wilayah yang sudah tersedia jaringan PDAM, responden di lokasi tersebut menggunakan air tanah (ATDm) sebagai sumber air utama,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER