31 C
Kudus
Rabu, September 22, 2021
spot_img
BerandaSEMARANGJejak Tokoh Nasional...

Jejak Tokoh Nasional Berhaluan Kiri di Gedung SI Semarang

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gedung milik Sarekat Islam (SI) Merah di Kampung Gendong Selatan Sarirejo Semarang Timur, menjadi saksi bisu pergerakan komunis di Ibukota Jawa Tengah. Gedung tersebut sudah mengalami perubahan, dan yang paling mencolok adalah lantainya dan pernah satu kali ditinggikan.

Namun, di tengah lantai bangunan tersebut ada lubang dengan ukuran 2×2 meter yang di dalamnya bertuliskan SI. Itu  menandakan gedung tersebut benar-benar markas Sarekat Islam (SI) Merah di Semarang.

Berdasarkan arsip Kemdikbud Jawa Tengah, bangunan yang berlokasi di Kampung Gendong Semarang ini dibangun oleh Semaun dan kawan-kawannya pada 1919 hingga 1920. Gedung bernama lain Gedung Rakyat Indonesia dibangun di atas tanah wakaf salah seorang keturunan Taspirin yang menjadi anggota Sarekat Islam.

- Ads Banner -

Pembangunan itu dilakukan secara swadaya, baik berupa uang maupun bahan bangunan. Tujuan didirikannya bangunan ini untuk sekolah pada siang hari dan pada malam hari digunakan untuk rapat umum Sarekat Islam.

Baca juga: Cerita Detik-Detik Terakhir Ketua PKI Singgah di Semarang Sebelum Ditangkap

Namun, kondisi bangunan bersejarah itu kini kurang terawat. Bahkan, beberapa warga sekitar tak mengetahui jika bangunan tersebut merupakan gedung bekas SI Merah di Semarang.

Ketua RW Gendong, Joko mengatakan, gedung tersebut memang pernah disinggahi oleh beberapa tokoh nasional berhaluan kiri seperti Soekarno, DN Aidit, Tan Malaka dan Semaun.

“Kalau informasi yang pernah saya dapatkan tokoh-tokoh nasional pada datang ke sini,” jelasnya saat ditemui di lokasi, Jumat (10/9/2021).

Meski demikian, dia tak tahu pasti seperti apa sejarah lengkapnya gedung tersebut. Pasalnya, banyak sesepuh kampung yang sudah meninggal yangmengakibatkan sejarahnya terpotong. Hal itulah yang membuat mayoritas anak muda di kampung tersebut tak mengetahui jika gedung itu punya sejarah yang panjang.

“Kalau yang orang-orang sepuh pada tahu, tapi kalau anak-anak muda sekarang banyak yang tak tahu,” keluhnya.

Baca juga: Mengenal Tan Tiong Ie, Pengusaha Kopi dan Crazy Rich di Jawa Era Kolonial

Gedung tersebut, pernah dipugar pada 2018 karena atap bangunan tersebut sempat bocor. Bahkan, bisa dibilang gedung tersebut juga sempat tak terawat beberapa saat.

“Memang gedung ini tak ada yang menjaga, tapi kuncinya yang bawa kita,” ucapnya.

Sebelum direnovasi, gedung bersejarah itu pernah dijadikan untuk tempat sekolah dasar. Selain itu, bekas gedung SI Merah itu juga pernah menjadi lokasi untuk salat Jumat.

“Di sini kan jauh masjidnya, akhirnya warga salat Jumatnya di gedung tersebut,” katanya.

Dia menyebut, beberapa bangunan di gedung tersebut masih asli seperti tembok, jendela serta beberapa pintu dan jendela yang masih terpasang sampai saat ini.

“Kalau tiangnya beberapa ada yang baru, jendelanya juga tapi bentuknya masih sama semua,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 7 - Sejarah Kereta Api Pertama di Indonesia dan Reaktivasi Jalur Semarang-Lasem

Tinggalkan Balasan

30,414FansSuka
14,922PengikutMengikuti
4,321PengikutMengikuti
52,135PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler