Cerita Detik-Detik Terakhir Ketua PKI Singgah di Semarang Sebelum Ditangkap

BETANEWS.ID, SEMARANG – Seminggu setelah peristiwa G 30 S PKI tahun 1965, kondisi beberapa daerah di Indonesia mencekam, tak terkecuali di Kota Semarang. Kota yang disebut memiliki basis PKI yang besar itu turut menjadi persinggahan gembong PKI DN Aidit sebelum akhirnya ditangkap di Solo.

Sanjoto (91) yang saat itu baru pindah ke Semarang ditugaskan untuk menggerebek rumah persinggahan DN Aidit yang berada di Jalan Belimbing Raya No 34, Peterongan, Kota Semarang. Dengan beberapa temannya yang bersenjata lengkap, dia mencari keberadaan DN Aidit setelah mendapatkan informasi dari Jakarta jika dedengkot PKI itu berada di Semarang.

Kapten Sanjoto, saksi hidup penggerebekan DN Aidit di Semarang. Foto: Dafi Yusuf.

Saat melakukan operasi, dia berkunjung ke Kodim (0733/BS) untuk mencari informasi keberadaan DN Aidit dan rombongannya. Dari situlah dia mendapatkan lokasi keberadaan DN Aidit dan rombongan.

-Advertisement-

“Setelah mendapatkan informasi saya lari ke sini sama Pak Wiradi ternyata bendera-bendera PKI di tempat tersebut banyak,” jelasnya saat ditemui di rumahnya, Senin (6/9/2021).

Baca juga: Talang Londo, Saluran Irigasi di Semarang yang Berusia Ratusan Tahun Ini Masih Berfungsi Apik

Namun sayang, kedatangan Sanjoto terlambat. DN Aidit ternyata sudah pergi dua jam sebelumnya. Yang tersisa hanyalah bendera PKI yang terpasang di beberapa sudut rumah tersebut.

“Dari sejumlah tetangga bilang kalau dua jam lalu sudah berangkat atau melarikan diri,” ujarnya.

Melihat kondisi rumah yang sudah kosong, dia tak tinggal diam. Sanjoto mencoba untuk masuk ke dalam rumah tersebut. Di dalamnya, dia menemukan sebuah rute yang akan dilalui DN Aidit dari Semarang.

“Saya baca rute tersebut, akhirnya saya langsung lari menghubungi komandan saya yang ada di Solo,” paparnya.

Beberapa jam berikutnya, dia sempat komunikasi dengan pimpinannya yang berada di markas Solo. Saat itulah dia juga mendapatkan informasi jika DN Aidit sudah ditangkap di Solo.

“Saat saya tlepon komandan saya dapat kabar, ternyata sudah diberondong ditangkap di Solo dia (DN Aidit),”  ujar pria kelahiran 17 November 1930 itu.

Kini, rumah yang sempat menjadi persinggahan gembong PKI DN Aidit itu ditempati Sanjoto bersama istri dan keluarganya. Menurut pengakuannya, dirinya menempati rumah di Jalan Belimbing Raya 34 Peterongan sejak tahun 1969.

“Namun saat itu rumah dalam kondisi kosong dan sempat disita negara” ucapnya.

Baca juga: Ganjar Pernah Bayari Biaya Rumah Sakit Hingga Lunasi Kontrakan Istri Ajudan Soekarno

Akan tetapi seiring berjalannya waktu, rumah tersebut kembali bisa ditempati Sanjoto setelah pemerintah mengetahui jika dirinya merupakan pejuang veteran kemerdekaan RI.

“Ini kemarin juga sempat direnovasi,” katanya.

Untuk diketahui, Kapten Sanjoto juga pernah terlibat dalam Dwikora mengawal Jenderal Ahmad Yani di Singkawang, Kalimantan Barat.

Dia adalah prajurit Corps Polisi Militer yang ikut serta mengamankan dan mengawal Jenderal Ahmad Yani dan sejumlah perwira tinggi lainnya dalam persiapan konfrontasi dengan Malaysia.

Selain itu, dia juga pernah menjadi pengawal Presiden Soekarno ketika berkunjung ke Tegal. Saat itu, dia bertugas sebagai supir yang ditumpangi Soekarno ketika melakukan perjalanan ke Tegal.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER