BETANEWS.ID, SOLO – Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka menyebut angka pengangguran di Solo meningkat dari 4,18 persen di 2019 menjadi 7,92 di 2020. Jika dirata-rata, dari 100 penduduk terdapat 8 warga yang menganggur.
“Ini bahaya sekali. Makanya prioritas dari Dinas Tenaga Kerja adalah pengentasan pengangguran, peningkatan kompetensi, dan daya saing tenaga kerja di Kota Surakarta,” katanya saat menerima anggota Komosi IX DPR Ri di Balai Kota Solo, Jumat (17/9/2021) kemarin.
Untuk mengatasi permasalahan ini, beberapa langkah yang disiapkan Pemkot Solo adalah peningkatan SDM di Balai Latihan Kerja (BLK), menjalin kerja sama dengan Shopee Campus, pelatihan buruh pabrik rokok dengan anggaran DBHCHT, termasuk memaksimalkan job canvasing baik di perusaahan Solo maupun luar daerah.
Baca juga: Ratusan UMKM di Solo Diajari Jualan Online
Menurutnya, jumlah tenaga kerja di Kota Surakarta di sektor formal sampai dengan Juni 2021 ada sebanyak 330.431. Sedangkan buruh yang terdampak Covid-19 sekitar 2569 orang, dengan rincian, yang dirumahkan 2.640 orang dan yang di diputus hubungan kerjanya 109 orang.
“Pengangguran merupakan masalah yang tidak bisa diselesaikan satu lembaga saja. Ya itu PR saya. Nanti akan kita selesaikan,” kata Gibran.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Porovinsi Jawa Tengah, Sakina Rosellasari menambahkan, sejak 2020 terdapat 351 perusahaan yang terdampak. Dari jumlah tersebut, hanya 101 perusahaan yang beroperasi kembali.
Baca juga: Gibran Tengok Rutan di Solo yang Punya Usaha Konveksi Hasil Kerjaan Warga Binaan
Dirinya menyebutkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2020, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Jawa Tengah terdapat 1.210 ribu orang. Kemudian pada trisemester pertama 2021 turun 90 ribu sehingga TPT jadi 1.120 ribu orang.
“Untuk PHK di data saya ada 6.600. Tetapi dengan berjalannya waktu, ada yang kemudian bekerja kembali,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

