BETANEWS.ID, SOLO – Banyak orangtua di Kota Solo diketahui belum mengizinkan anaknya mengikuti Pembelajaran Tatap Muka (PTM). Alasannya beragam, tapi yang paling banyak adalah khawatir dengan kondisi pandemi.
Menanggapi itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Etty Retnowati tak mempermasalahkan sikap wali murid tersebut. Ia memaklumi jika masih banyak orangtua yang belum menghendaki anaknya ikut PTM.
“Nggak masalah, itu kan tergantung orangtua. Orangtua menyetujui, oke kita layani dengan PTM. Yang tidak setuju ya pembelajaran jarak jauh (PJJ). Sekolah agak beratnya di situ, mengajar separuh-separuh dengan PTM dan online. Tapi itu (pembelajaran) harus diberikan oleh sekolah,” terangnya, saat meninjau sosialisasi kepada orang tua siswa di SMP N 15 Solo.
Baca juga: UNS Mulai Gelar Kuliah Tatap Muka, Ruang Kelas Diisi Maksimal 30 Persen
Etty mengungkapkan, saat ini sudah 162 lembaga pendidikan dalam naungan Pemkot Solo yang melaksanakan PTM. Rinciannya, 65 SMP, 38 Sekolah Dasar, 38 PAUD, 12 Lembaga Kursus Pendidikan, serta 9 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).
Kendati sudah melakukan PTM, sekolah-sekolah tersebut masih ada yang masih berstatus baru melakukan simulasi. Etty menerangkan, sebelum benar-benar PTM, sekolah memang diwajibkan untuk melakukan simulasi terlebih dahulu.
“Makanya ini kita selesaikan vaksin dulu. Mudah-mudahan akhir bulan ini selesai semua untuk 73 ribu anak. Sehari kita dikasih jatah 3 ribuan. Kita bagi dengan SMA dan SMK,” ujar Etty.
Di sisi lain, Kepala Sekolah SMP Al Azhar Syifa Budi, Mustaghfirin mengungkapkan, di sekolahnya ada 20 persen orangtua yang belum mengizinkan anaknya mengikuti PTM. Maka dari itu, pihaknya akan terus menggencarkan sosialisasi protokol kesehatan dan vaksinasi.
“Ada yang menolak, karena khawatir, trauma dari keluarga. Kemarin ada yang trauma karena di rumah itu sampai berat kondisinya. Jadi masih ada sedikit ketakutan untuk melepas anaknya ke sekolah,” terangnya.
Selain trauma, alasan orang tua yang tidak menyetujui anaknya ikut PTM juga cukup bervariasi. Mustagjfirin menyebutkan, ada orang tua yang memang belum percaya pada anaknya, ada yang karena takut berlebihan, dan ada pula yang masih menunggu situasi sampai semua siswa sudah seluruhnya mendapatkan vaksin.
Soal vaksinasi, dari 253 siswa di SMP Al-Azhar Syifa Budi, 50 persennya sudah divaksin. Meski begitu, pihaknya akan terus melakukan percepatan vaksinasi. Mustaghfirin optimis setelah berjalan satu bulan, para orangtua akan menyetujui anaknya mengikuti pembelajaran tatap muka saat seluruh siswa telah divaksin.
Baca juga: PTM Hari Pertama di Solo: Dari Telat, Salah Seragam, Hingga Bajunya Kekecilan
“InsyaAllah setelah satu bulan saya yakin beliau-beliau akan setuju karena sudah vaksin semuanya. Ya, karena salah satu persyaratannya adalah harus izin orangtua. Jadi tidak boleh dipaksakan,” kata Mustaghfirin.
Adapun pelaksanaan PTM di SMP Al-Azhar Syifa Budi akan dimulai besok yang akan diikuti siswa kelas 7 dengan waktu pembelajaran selama dua jam. Terdapat tiga ruang kelas dengan satu kelasnya diisi 13 siswa. Sedangkan, untuk siswa kelas 8 dan 9, PTM akan dimulai 13 September.
“Saat PTM siswa diharuskan diantar jemput oleh orang tua. Jadi diharuskan memakai armada pribadi. Tidak ada kantin, siswa harus membawa bekal sendiri, memakai masker, face shield. Kemudian siswa istirahatnya harus tetap stay di kelas selama 15 menit. Kemudian setelah jam pulang sudah ada penjemputnya, siswa dipanggil dari mic untuk siap dipulangkan,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

