BETANEWS.ID, SEMARANG – Rokok linting dewe atau yang kerap disebut tingwe kembali diburu warga Kota Semarang selama diberlakukannya Kebijakan PPKM Darurat di Jawa & Bali. Meski perekonomian sedang sulit, alih-alih berhemat, para penikmat tingwe malah banyak yang beli saat-saat pandemi seperti ini.
Penjual rokok tingwe merek Sendau Gurau, Ragil Maulana mengatakan, rokok tersebut dianggap memiliki keunikan tersendiri bagi para penikmatnya. Bahkan, tingwe menjelma menjadi gaya hidup masyarakat.
“Selain khas dalam menghisap, menikmati tingwe juga disebut sebagai cara melestarikan budaya terdahulu,” jelasnya, saat ditemui di Jalan Mulawarman Utara Dalam II, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Sabtu (10/7/2021).
Ragil merintis bisnis tembakau pada awal tahun 2019 bermodalkan Rp 400 ribu. Saat itu, ia hanya mampu membeli tembakau seberat dua kilogram.
“Uang tersebut kini menjadi ladang pemasukkan saya. Dalam satu bulan bisa dapat omzet jutaan,” ujarnya.
Baca juga: Sediakan Tembakau Premium Dari Berbagai Daerah, Heru Bisa Jual Hingga 500 Gram Sehari
Dengan makin banyaknya peminat ini, Ragil yang awalnya membangun bisnis tembakau bersama kawannya, kini mampu menjalankan bisnis tembakaunya sendiri. Bahkan, kini pelanggannya tersebar di berbagai daearah, hingga pengiriman yang paling jauh itu Pekanbaru, Nusa Tenggara Barat, dan Padang.
“Pandemi Covid-19, malah penjualan tembakau saya mengalami peningkatan. Satu bulan itu bisa menjual 8 sampai 10 kilogram,” ungkapnya.
Dengan ramaianya pembeli itu, stok jenis tembakaunya pun semakin banyak. Dari yang awalnya dua jenis tembakau, kini sudah memiliki stok tembakau berbagai jenis dari berbagai daerah di Tanah Air.
“Ada tembakau Aceh yaitu Gayo (hijau sama kuning), Sumedang ada Parugpug sama Darmawangi, Temanggung ada Lamsi sama Paksi, Jawa Timur ada Besuki, Madura ada Poday moris dan poday bukabu, dari Lombok ada Kasturi dan Madu Coklat,” tuturnya.
Baca juga: Penjualan Tembakau Tingwe di Ko-Mbako Ednik Meningkat Selama Pandemi
Tidak hanya tembakau saja, ia juga menyediakan kertas, cengkeh, alat pelinting, wadah tembakau dari daun pandan, dan pipa tembakau. Dari ketersediaan tembakau miliknya, masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Hal itu juga mempengaruhi harga yang ia tawarkan kepada konsumen.
“Tentunya dengan jenisnya dari mana dan perawatan. Per lima puluh gramnya saya jual mulai dari Rp 13 ribu sampai Rp 25 ribu,” tandas pria lulusan jurusan Teknik Mesin salah satu politeknik negeri di Kota Semarang.
Editor: Ahmad Muhlisin

