BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang wanita mengenakan baju batik warna biru, terlihat sedang mengambil malam. Setelah itu, ia memanaskannya pada wajan berukuran kecil yang digunakan untuk mencanting. Siang itu, tangannya begitu terampil mernggoreskan malam untuk membuat motif daun pakis. Dia adalah Teresia Leony Widihastuti, Pemilik Tere Batik.
Sambil meneruskan pembatikan itu, Tere, sapaan akrabnya sudi berbagi kisah kepada Betanews.id soal awal mula ia merintis usaha batik 2014 lalu. Dilahirkan dan dibesarkan di keluarga pembatik, tidak membuatnya berpikir untuk menjadikan batik jalan hidupnya. Wanita asal Pekalongan tersebut awalnya justru memilih untuk menjadi wanita karir yang kerja kantoran.

“Dulu pokoknya keinginan saya tidak mau kerja kotor, maunya kerja yang bersih, dalam ruangan AC, dan pakai baju yang rapi,” ungkapnya, Kamis (08/7/2021).
Baca juga: Cerita Sukses Pemilik Batik Djanoer, Awalnya Harus Pinjam Uang Temannya untuk Modal
Namun, setelah bergelut di dunia perkantoran selama sembilan tahun, Tere pun berada di titik jenuh pekerjaannya.
“Dulu saya bekerja di pialang saham, dan sudah menjadi kepala cabang,” jelasnya.
Tetapi karena sudah jenuh, tanpa pikir panjang, Tere pun memilih untuk resign dan menjadi pengrajin batik pada tahun 2014. Saat awal dirinya terjun, ia mengaku tidak kesulitan dalam membatik, karena saat kecil dirinya sudah biasa membatik.
“Kalau ditanya awal sulitnya malah saat memperkenalkan karya saya. Kalau untuk membatik, saya sudah bisa,” jelasnya.
Tere juga menjelaskan bahwa karyanya pun mempunyai ciri khas tersendiri. Ciri khas yang diberikan Tere adalah sentuhan desain yang selalu mempunyai filosofi di setiap lembaran kainnya.
Selain itu, Tere juga menggunakan warna-warna terang dan ceria sehingga bisa menarik peminat para kaum milenial.
“Saya selalu menggunakan warna yang terang dan warna yang kekinian, sehingga anak muda bisa suka ketika mengenakan batik,” jelasnya.
Baca juga: Angkat Kearifan Lokal Desa Tawangrejo Melalui Ragam Motif Batik Tawung Sari
Meski Tere masih baru menjadi pembatik, tetapi karya Tere sudah banyak peminatnya. Bahkan Tere sering dapat pesanan batik custom dari para pejabat tinggi.
“Untuk pemesanan saya sudah luas, sudah di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan luar Jawa,” tambahnya.
Di galeri batiknya, Tere menyediakan dua jenis batik, yaitu batik cap dari harga di bawah Rp 100 ribu hingga Rp 500 ribu untuk batik cap, dan dari Rp 500 ribu hingga puluhan juta untuk batik tulis. Karena banyak peminatnya, Tere bisa meraup omzet Rp 80 juta hingga Rp 150 juta sebelum pandemi.
“Kalau untuk pandemi sekarang, omzet saya sekitar Rp 40 juta hingga Rp 60 juta,” tandasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

