BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria terlihat sedang menyiapkan selembar kain di atas meja, setelah tertata rapi, ia melanjutkan langkah selanjutnya dengan memasukkan cetakan ke dalam malam cair sebagai bahan pembuat batik cap.Pria tersebut tak lain adalah Sih Karyadi (45), pemilik usaha Batik Djanoer.
Di sela aktivitasnya, ia berbagi cerita tentang usaha yang digelutinya itu. Ia memulai usaha batik tersebut sejak Juni 2015. Berbekalkan pengalamannya menjadi salah satu karyawan perusahaan batik di Kudus, akhirnya Karyadi memantapkan diri untuk resign dari perusahaan dan mencoba memulai usaha batik sendiri.

Baca juga : Alfa Shoofa Punya Belasan Corak Batik Khas Kudus yang Cocok untuk Berbagai Acara
“Setelah saya bekerja selama 4 tahun, saya mulai jatuh cinta dengan batik, akhirnya saya keluar dan mencoba usaha batik sendiri,” ujarnya saat ditemui di tempat produksi batiknya, di Dukuh Sudimoro, Desa Karang Malang, Kecamatan Gebok, Kabupaten Kudus, Sabtu (10/04/2021).
.
Dengan modal nekat, Karyadi membuka usaha batiknya dengan meminjam tempat dan uang kepada temannya sebanyak Rp 25 juta sebagai modal.
Tak semudah yang ia bayangkan, ternyata dalam bergelut di dunia bisnis memang tidak mudah. Karyadi bahkan pernah vakum beberapa tahun karena belum bisa mengelola dengan baik.
“Saya sempat vakum juga, tetapi karena dukungan dari keluarga serta kerabat dekat, saya dan istri akhirnya bisa bangkit dan bisa sukses dalam menjalankan bisnis ini,” jelasnya.
Kini karena kegigihannya, Karyadi menjadi salah satu perajin batik yang sukses. Ia bahkan bisa mendapatkan omzet belasan juta rupiah dalam sebulan.
Ia katakan, ciri khas yang dimiliki oleh batik buatan Karyadi adalah, warnanya yang terang dan tegas serta bentuk motifnya yang besar.
“Kami terkenal dengan warnanya yang terang dan motifnya yang besar, tetapi kami juga membuat warna yang kalem agar konsumen bisa punya banyak pilihan,” jelasnya.
Jenis batik yang dikerjakan karyadi ada 2, yaitu jenis batik tulis dan batik cap. Untuk produksi, Karyadi mengatakan ia memproduksi setiap hari.
Baca juga : Tere Batik, Usung Motif Ikon Kudus dan Kearifan Lokal dengan Warna Ceria
“Kami hanya membuat batik cap dan tulis, sebagai dukungan saya kepada para perajin batik lainya. Karena kalau batik printing, itu sudah tidak batik lagi namanya,” jelasnya.
Kini setelah 6 tahun bergelut di dunia batik, ia pun juga sudah mempunyai tempat produksi dan galeri sendiri untuk penempatan koleksi batiknya.
Editor : Kholistiono

