Kenapa Suhu Udara di Jateng Terasa Lebih Dingin? Ini Jawaban BMKG

BETANEWS.ID, SEMARANG – Sejumlah daerah di wilayah Jawa hingga NTT baru-baru ini merasakan suhu udara yang terasa lebih dingin dibanding sebelumnya. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena tersebut disebabkan fenomena bediding.

Kepala Stasiun Klimatologi Semarang Sukasno mengatakan, saat ini wilayah Jawa hingga NTT menuju periode puncak musim kemarau. Pada periode ini ditandai oleh pergerakan angin bertiup dominan dari arah Timur yang berasal dari Benua Australia.

“Suhu udara dingin merupakan fenomena alamiah yang biasa terjadi di bulan-bulan puncak musim kemarau, Juli-September,” jelasnya, Senin (19/7/2021).

-Advertisement-

Baca juga: Kebijakan yang Terpusat di Kota Dinilai Tidak Efektif Hentikan Pandemi, Ganjar Gelar Rembug Desa

Menurutnya, pada bulan Juli wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Sifat dari massa udara yang berada di Australia ini dingin dan kering. Hal itu menyebabkan pergerakan massa udara menuju Indonesia.

“Adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia menuju Indonesia,” ujarnya.

Keterangan tersebut sekaligus membantah beredarnya informasi yang mengkaitkan suhu udara dingin dengan fenomena aphelion, di mana posisi Bumi berada di titik terjauh dari Matahari.

Dia menambahkan, angin yang bertiup menuju Indonesia melewati perairan Samudera Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut juga relatif lebih dingin. Sehingga suhu di beberapa wilayah di Indonesia tersa lebih dingin.

“Terutama bagian selatan khatulistiwa (Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara) terasa juga lebih dingin,” imbuhnya.

Baca juga: Antisipasi PPKM Darurat Diperpanjang, Ganjar Siapkan Skenario Kontinjensi

Menurutnya, berkurangnya awan dan hujan di Pulau Jawa, Bali, NTB, dan NTT terlihat cukup signifikan dalam beberapa hari terakhir, bahkan disertai berkurangnya kandungan uap air di atmosfer.

“Secara fisis, uap air dan air merupakan zat yang cukup efektif dalam menyimpan energi panas. Sehingga, menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi ke luar angkasa pada malam hari tidak tersimpan di atmosfer,” ucapnya.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER