31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Gagal Kerja Sama dengan Perusahaan Besar Justru Jadi Titik Balik Kesuksesan Susu Moeria

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi selatan Jalan Pemuda Nomor 64, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus tampak bangunan rumah bergaya klasik. Di halamannya, terparkir beberapa mobil dan di bagian belakang terlihat sebuah kandang berisi dua sapi perah yang dijadikan sebagai edukasi bagi pengunjung. Serta di bagian lain tampak beberapa pekerja melayani para pembemi. Tempat tersebut yakni Cafe Susu Moeria.

Tak berselang lama datanglah Owner Susu Moeria Feliciana Nathali Yuwono menyapa dan mempersilakan duduk. Kemudian, dengan antusias perempuan berusia 30 tahun itu pun berkisah tentang awal mula usaha Susu Moeria itu dirintis. Dia menuturkan, usaha Susu Moeria dirintis kakek buyutnya bernama Ong Hien Siok pada tahun 1938.

“Berarti Susu Moeria ini sudah ada sebelum Indonesia merdeka, atau pada masa Kolonial Belanda. Jadi sangat legendaris ya,” ujar perempuan yang akrab disapa Felic kepada Betanews.id, beberapa hari yang lalu.

-Advertisement-
Beberapa pembeli tampak menunggu pesanan di Kafe Susu Moeria. Foto: Rabu Sipan

Baca juga : Keluh Owner Susu Moeria Terimbas Pandemi, Lini Usaha Food Court Tutup dan Sempat Nol Transaksi

Felic mengungkapkan, saat itu, kakek buyutnya sudah punya peternakan sapi dan produksi susu sendiri. Meskipun kata dia, jumlah sapi saat itu belum banyak, hanya sekitar lima sampai 10 ekor saja. Semua proses produksi dilakukan dengan cara tradisional.

“Untuk pemasarannya, dulu itu menggunakan sistem loper keliling. Susu Moeria dijajakan para peloper menggunakan sepeda ontel,” beber Felic sembari melepas kaca matanya.

Sepeninggal kakek buyutnya, kata dia, usaha Susu Moeria dilanjutkan oleh kakeknya yang bernama Sugeng Murijanto. Di tangan kakeknya ada peningkatan jumlah produksi susu dan jumlah sapi meski tidak banyak. Dari yang awalnya hanya 10 ekor sapi jadi 20 ekor. Hal itu juga berlaku di penjualannya.

“Di tangan kakek saya, meski perkembangannya tidak banyak, tapi setidaknya untuk siklus usaha kan ada peningkatannya,” jelasnya.

Kemudian, lanjutnya, usaha Susu Moeria dilanjutkan oleh ibunya bernama Lani Murijanto. Saat dikelola ibunya itu, pada tahun 1990 an ada sebuah perusahaan di Kudus yang mengajak kerja sama. Yakni Susu Moeria diminta untuk menyediakan susu untuk semua karyawan perusahaan tersebut.

“Dengan adanya kerja sama itu otomatis butuh persediaan susu banyak dong. Ibu saya pun mengadakan penambahan sapi perah sekitar 40 ekor. Dari yang tadinya 20 ekor, pada saat itu Susu Moeria jadi punya 60 ekor sapi,” tuturnya.

Namun, kata dia, kerja sama tersebut ternyata batal. Kemungkinan karena adanya krisis moneter di Indonesia pada tahun 1998. Karena gagal kerja sama tersebut orang tua Felic memeras otak cari solusi.

“Ya, karena saat itu orang tua saya tidak bisa ngapa – ngapain. Niatnya memperluas market tapi malah gagal. Kemudian orang tua saya punya ide untuk mengemas Susu Moeria ke dalam cup,” bebernya.

Di tahun yang sama, lanjutnya, orang tuanya juga berinovasi lagi. Tadinya Susu Moeria yang hanya tersedia susu murni tawar saja, diberikan inovasi dengan varian rasa. Di antaranya susu coklat, susu manis, susu strawberry dan lainnya.

“Ternyata Susu Moeria dalam cup, serta tersedia berbagai varian rasa sangat diminati masyarakat. Penjualan naik, sehingga pasokan susu dari penambahan sapi itu bisa terserap. Bahkan sampai kekurangan,” ungkapnya.

Selain itu, tuturnya, dengan larisnya Susu Moeria di pasaran, membuat konsumen penasaran dan ingin melihat proses produksi dan peternakannya. Hal itulah saat itu kemudian banyak orang yang datang langsung ke tempat produksi Susu Moeria.

“Mereka pada datang menikmati susu murni segar. Sekaligus bisa melihat peternakan sapi dan kalau mau mencoba memerah susu sapi juga diperbolehkan,” kata Felic sembari tersenyum.

Felic mengatakan, dengan berjalannya waktu pada tahun 2018 pengelolaan Susu Moeria dipasrahkan pada dirinya dan saudaranya. Dia dan saudaranya merupakan generasi ke empat Susu Moeria. Sejak dikelola langsung olehnya, konsep tempat penjualan Susu Moera diubah jadi kafe semi indoor.

“Bangunan kami renovasi tapi tetap mempertahankan kesan klasiknya. Serta sapi – sapi kami pindah ke Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Tujuannya, kita mau fokus peningkatan standart mutu dan kehigienisan susu,” ungkapnya.

Dia menuturkan, saat ini Susu Moeria punya 125 ekor sapi perah. Dari jumlah tersebut, saat ini yang aktif produksi susu ada sekitar 60 ekor. Setiap ekor sapi mampu menghasilkan delapan sampai 10 liter susu setiap harinya.

Baca juga : Demi Tutupi Biaya Operasional, Susu Moeria Harus Rela Jualan di Tepi Jalan

“Kandang sapi kami di Kaliwungu itu sudah modern. Untuk pencampuran pakan sudah pakai mesin. Untuk memerah susunya juga sudah menggunakan mesin vacum milking,” ungkapnya.

Dia berharap, Susu Moeria yang terkenal dengan kemurniannya serta kesegarannya sejak zaman kolonial belanda itu selalu jadi idola warga. Tetap diminati dan dicintai. Serta semoga makin laris, berkembang dan makin sukses.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER