BETANEWS.ID, SEMARANG – Nama Sarimin (60) atau yang akrab dipanggil Mbah Min itu mulai banyak diperbincangkan orang sejak dia diundang di salah satu televisi di Jakarta. Mbah Min merupakan penjual yang unik lantaran untuk beli makan di warungnya tak menggunakan uang namun sampah plastik.
Warung Mbah Min berada di Kawasan TPA Jatibarang Kota Semarang. Letak warungnya yang berada di pinggir jalan membuatnya mudah ditemukan. Sekilas, warung Mbah Min tak seperti warung pada umumnya lantaran lebih banyak limbah plastiknya dibandingkan ukuran rumah Mbah Min.

Namun, bagi warga sekitar yang bekerja menjadi pemulung, keberadaan warung Mbah Min itu sangat membantu. Hal itulah yang membuat warung Mbah Min mayoritas pembelinya adalah pemulung.
“Kalau di sini itu mayoritas pembelinya pemulung,” jelas Mbah Min saat ditemui di warungnya, Jumat (4/6/2021).
Baca juga: Studio Foto Legendaris di Kota Lama Ini Jadi Tempat Abadikan Cinta Sesaat ABK dan PSK
Sampah plastik yang bisa ditukarkan di warung miliknya hanya jenis sampah plastik yang bisa didaur ulang. Beberapa sampah plastik itu adalah gelas plastik dan botol bekas air mineral, tas plastik bekas, dan sejenisnya.
Jika terdapat sisa atau selisih nilai uangnya secara otomatis dianggap sebagai tabungan pembeli yang bisa digunakan untuk makan selanjutnya. Daftar nama pembeli akan dicatat dan dijadikan member jika berniat untuk menjadi langganan.
“Jadi di sini juga ada member. Sudah puluhan yang jadi member mereka langganan kalau makan di sini,” katanya.
Sarimin menceritakan, konsep tukar sampah untuk makan itu terpikir ketika para pemulung yang ada di sekitar TPA Jatibarang tidak pasti memiliki uang. Hal itu membuat para pemulung kerap kali berutang di warung.
Baca juga: Kampung Jawi, Tempat Cari Kuliner Jadul di Gunungpati, Uang Rupiah Tak Laku di Sini
“Dari situ saya mikir, mereka sering utang makan karena sampah yang dikumpulkan belum menghasilkan uang,” imbuhnya.
Sistem pembayaran dengan menggunakan sampah plastik ini, menurut orang kelahiran Kabupaten Rembang itu, ternyata membawa keuntungan tersendiri. Setiap satu kilogram plastik yang dibeli seharga Rp 400 bisa dia jual ke pengepul sampah seharga Rp 500.
Editor: Ahmad Muhlisin

