“Sekarang ini tim kami masih banyak mengalami penolakan. Bisa dicek di rumah sakit, hampir setiap hari Mas Anas hampir berkelahi dengan pihak keluarga,” ujar Mbah Bejo saat ditemui Tim Liputan Khusus Betanews.id di tempat terpisah.
Sementara itu, Yulian Noor Widya (38), Ketua Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB) Kudus, meminta agar pemerintah melalui dinas terkait lebih berupaya lagi untuk sosialisasi dan edukasi protokol kesehatan pada masyarakat. Hal itu diungkapkan Lilik, sapaan akrab Yulian Noor Widya, saat ditemui terpisah oleh Tim Liputan Khusus Betanews.id.
“Saya lihat pemerintah sudah berupaya, tapi saya harap bisa lebih kenceng lagi sosialisasi dan edukasinya,” katanya.
Proses Pemulasaraan Jenazah Covid-19

Anas menjelaskan, ada tahapan-tahapan tertentu dalam proses pemulasaraan jenazah Covid-19. Pada tahap awal, jenazah akan diberikan disinfeksi untuk merontokkan virus-virus yang ada di dalam tubuh. Proses tersebut dilakukan berulang-ulang agar virus yang ada di dalam benar-benar hilang.
“Itu kami lakukan berulang-ulang, semaksimal yang kami bisa. Jadi sebelum dimandikan, seusai dimandikan, sebelum dibungkus, ini dilakukukan berulang-ulang agar ketika jenazah dimakamkan selesai, tidak ada virus-virus yang tersisa,” tuturnya.
Selain itu, kata Anas, jenazah masih ada udara di dalam tubuhnya. Kalau proses disinfeksi tidak dilakukan, virus masih bisa menular melalui udara yang keluar dari rongga-rongga hidung, hal ini sangat berbahaya.
Anas menyebutkan, sebagian besar jenazah Covid-19 mengeluarkan lendir dari dalam tubuhnya. Cairan ini berbahaya jika tidak dilakukan disinfeksi. “Hampir 80-90 persen jenazah yang terkonfirmasi (positif Covid-19) ini mengeluarkan lendir yang sangat kental,” katanya.
Tim Liputan: Ahmad Rosyidi, Rabu Sipan, Kaerul Umam (Reporter, Videografer). Suwoko (Editor Berita). Andi Sugiarto (Editor Video). Manarul Hidayat (Desainer Grafis).






