BETANEWS.ID, KUDUS – Rumah Khalwat Balai Budaya Rejosari (RKBBR) bakal menggelar pertunjukan drama musikal dengan judul Kasih Ayah. Dalam ceritanya, drama ini menyorot sosok inspiratif bagi umat Katolik, yakni Santo Yusuf, sebagai tokoh sentral.
“Yusuf adalah salah satu sosok kunci tergenapinya nubuat nabi-nabi sekaligus juga salah satu tokoh kunci terlaksananya kehendak Allah untuk menyelamatkan umat manusia,” ujar Asa Jatmiko, Penulis Naskah dan Sutradara Kasih Ayah.
Menurutnya, cerita ini semakin menarik, karena dengan peranannya yang begitu besar, namun amat sedikit pembicaraan tentang Yusuf.
Drama Kasih Ayah, menurut Asa, ingin menggambarkan kasih yang hidup. Kasih yang tidak hanya disandarkan kepada faktor kedekatan personal, ayah dan anak. Namun, ditumbuhsuburkan oleh firman dan kehendak Allah. Kasih yang dilambari kepercayaan dan ketaatan penuh kepada Allah.

Baca juga : Luka Luna, Film Garapan BBR Raih Juara 3 pada Ajang Digital Movie Competition 2020
“Terlebih, konsep Kasih Ayah ini masih terbilang konsep baru, yang tidak ingin menghilangkan pertunjukan panggung, namun sekaligus menghadirkan pendekatan sinematik. Maka, para pemain dan kru, dibawa ke dalam pola latihan yang penuh kasih, sebagaimana Yusuf mendidik Yesus, anaknya. Nuansa teatrikal harus muncul, namun sentuhan perasaan yang halus juga harus bisa dirasakan,” ucapnya.
Disebutkan, drama musikal sinematik Kasih Ayah dimainkan oleh aktor Cornel Innos dan Bernadette Renata, juga melibatkan para frater, diakon dan imam dari Konggregasi MSF dan puluhan seniman dari berbagai kota.
Dalam hal ini, Yogi Swara Manitis Aji dipercaya sebagai asisten sutradara, seting artistik yang filmis digarap oleh Blendang Blendung Studio dari Yogyakarta, pimpinan Greg Susanto. Sementara, pencipta lagu-lagu dan komposer oleh Romo Lukas Heri Purnawan MSF dan Ninin Widhiyanto, dan tata lampu oleh Jagat Tuwuh Pramono Aji.
Dengan latar belakang era kehidupan Yusuf (1 Masehi), selama 9 – 13 Juni 2021, pengambilan gambar dilakukan di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta. Tim akan membangun panggung sebagaimana lingkungan saat itu, dan juga menghadirkan binatang sungguhan, yakni keledai, yang sengaja dihadirkan dari Gembira Loka Zoo, Yogyakarta, dan beberapa binatang lain.
“Drama Musikal Santo Yusuf selain bertujuan untuk mengisi tahun Yusuf yang ditetapkan oleh Paus Fransiskus mulai 08 Desember 2020 – 08 Desember 2021 juga sebagai usaha penggalangan dana untuk membangun rumah hening/rumah khalwat di RKBBR,” ungkap Irianto Gunawan, produser.
Ia menambahkan, sebagai ruang berkesenian RKBBR, merasa perlu turut menyumbangkan karya seni drama untuk memperkaya media pewartaan. Tokoh Santo Yusuf sendiri merupakan sosok yang menantang untuk divisualisasikan sebab minimnya data yang bisa menggambarkan sosok St Yusuf secara tepat.
Drama musikal sinematik ini akan mulai tayang Perdana pada 14 – 15 Juli 2021 di kanal youtube Balai Budaya Rejosari Official.
Sementara itu Ketua Pengelola RKBBR, Romo Lukas Heri Purnawan MSF mengatakan, untuk mendukung penggambaran tokoh Yusuf ini, keutamaan St Yusuf digali berbagai sumber. Salah satunya adalah Surat Apostolik terbaru Paus Fransiskus Patris Corde yang dikeluarkan untuk menyambut 150 Tahun pemakluman St Yusuf sebagai pelindung Gereja Katolik oleh Paus Pius IX pada 08 Desember 1870.
“Patris Corde (Dengan Hati Seorang Bapa) menyampaikan refleksi Bapa Paus Fransiskus mengenai keutamaan yang terdapat dari St Yusuf untuk diteladani orang zaman ini. Terlebih saat menghadapi masa pandemi ini. Juga melalui seminar yang mengupas St Yusuf memperkaya wawasan tokoh St Yusuf ini, hingga tercipta Drama Musikal St Yusuf yang bertema Kasih Ayah,” ujarnya.
Wakil Ketua Pengelola RKBBR, Romo Stephanus Nyaris Prasetyo MSF menambahkan, drama musikal ini juga menjadi semangat RKBBR untuk terus berani mewujudkan visi misinya menjadi rumah anak bangsa. Sebagaimana St Yusuf yang terus berkarya dalam setiap tantangan yang ada, RKBBR juga akan terus berkarya menghadapi tantangan yang ada untuk menjadi rumah anak bangsa.
“Seperti halnya proses produksi ini yang melibatkan bukan hanya orang katolik saja tetapi juga yang nonkatolik,” ungkapnya.
Baca juga : Teater AS STAI Pati Pentaskan Lakon Dalang dan Wayang
Menurutnya, Drama Musikal St Yusuf ini, merupakan prakarsa dari tim pengurus RKBBR yang berada di Kudus. Salah satu konsen kegiatan RKBBR adalah dialog budaya.
“Prakarsa awal RKBBR diawali dari ide sekaligus harapan dari Kardinal Mgr. Suharyo yang saat itu masih menjadi Uskup Keuskupan Agung Semarang untuk membuat suatu karya pastoral yang khas Pantura,” imbuhnya.
Dari harapan Mgr Suharyo itulah, menurutnya, kemudian terwujud RKBBR yang mulai dirintis mulai tahun 2010 hingga sekarang ini. Wilayah pantura keuskupan dalam pelayanan pastoral dipercayakan kepada tarekat/kongregasi MSF yang meliputi Pati, Kudus, Jepara, Purwodadi dan Gubug. Sehingga dalam pengelolaannya, RKBBR sebagai milik keuskupan agung Semarang namun pengelolaannya diserahkan sepenuhnya kepada tarekat MSF Provinsi Jawa Tengah.
Editor : Kholistiono

