Solekan (paling kanan) tengah menunjukkan tempat usahanya kepada Tim Lipsus Beta News. Foto: Kaerul Umam

Suara tempaan besi terdengar di belakang rumah di Dukuh Bareng Bodro, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Beberapa pria terlihat sedang sibuk di tempat tersebut. Ada yang memukul besi dijadikan pahat, ada yang mengamplas stainles menggunakan mesin. Serta ada yang bikin cangkul. Di antara mereka tampak seorang pria paruh baya sibuk mengecek hasil kerajinan logam. Pria tersebut yakni Solekan pemilik dari usaha dagang (UD) Logam Jaya.

Seusai mengecek kerajinan logam miliknya, Solekan sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut kepada Tim Liputan Khusus Betanews.id. Dia mengatakan, dirinya terjun di dunia kerajinan logam sejak tahun 1990. Menurutnya, usaha kerajinan logam tersebut dulunya adalah warisan dari orang tuanya, yang telah dirintis selama puluhan tahun. Ia mengaku, sebenarnya dulu itu terpaksa terjun jadi perajin logam. Semua karena keadaan.

“Dulu saya itu terpaksa terjun di dunia kerajinan logam. Sebab pada tahun 1990 ayahku meninggal dunia. Padahal saat itu saya kuliah semester empat. Karena saya anak paling besar, jadinya saya harus melanjutkan usaha kerajinan logam orang tuaku, dan dengan terpaksa tidak melanjutkan kuliah,” ujar Solekan kepada tim liputan khusus Betanews.id, (12/4/2021).

“Pada waktu itu hampir seluruh perajin logam di Hadipolo bikin palu dan pahat. Semua disetorkan ke saya. Hal itu berjalan mulai tahun 1990 sampai 1995

Solekan, Pandai Besi Bareng

Solekan menuturkan, pada saat ditinggalkan oleh ayahnya, usaha kerajinan logam tersebut sedang besar – besarnya. Oleh sebab itu, demi ekonomi keluarga dan demi adik-adiknya, ia pun rela putus kuliah dan melanjutkan usaha kerajinan logam milik keluarga.

Lebih lanjut kata dia, saat itu kerajinan logam yang diproduksi adalah pahat dan martil. Karyawan yang bekerja di rumah ada sekitar 25 orang. Jumlah tersebut belum para pekerja yang mengerjakan palu dan pahat di rumah mereka masing – masing. Bahkan dulu hampir semua perajin logam di Desa Hadipolo itu bikin pahat dan palu, dan semuanya disetor kepadanya.

“Pada waktu itu hampir seluruh perajin logam di Hadipolo bikin palu dan pahat. Semua disetorkan ke saya. Hal itu berjalan mulai tahun 1990 sampai 1995,” terang pria berkaca mata tersebut.

Namun, ungkap Solekan, yang namanya usaha pasti ada pasang surutnya, ada jatuh bangunnya. Hal itu pun menimpa pada dirinya. Pada tahun 1996 Solekan bermaksut melebarkan usaha di bidang peternakan, tepatnya beternak ayam pedaging. Tapi sayangnya usaha barunya tersebut gagal total, dia pun mengalami kerugian dan bangkrut.

Tinggalkan Balasan