BETANEWS.ID, SOLO – Triyanto (37) terlihat sedang melayani pelanggan yang membeli Es Ketel Alam Ghoib. Bersama dengan seorang wanita, mereka bahu membahu melayani pembeli yang cukup ramai sore itu. Bungkus demi bungkus dibawa pulang pembeli, begitu pun bahan-bahan pembuatan es makin tipis karena cukup laris.
Selama Ramadan ini, lapak jualan yang berada di tepi Jalan Kartini, Kelurahan Ketelan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta itu memang banyak dilarisi pemburu es untuk berbuka puasa.
“Sebelumnya saya buka angkringan. Namun karena harus bongkar pasang, jadi saya memilih berjualan es kethel sejak tiga bulan lalu,” ujarnya, Senin (19/04/2021).
Baca juga: Kafe Chocobean Punya Menu-Menu Menggiurkan yang Jadi Favorit Kawula Muda Kudus
Ia menjelaskan, Es Ketel sebenarnya es sirup yang diletakkan di dalam ketel atau biasa disebut teko. Namun ia kemudian memberi nama unik untuk menarik minat konsumen, di antaranya Es Las Vegas, Es Anti Galau, Es Jatuh Cinta, Es Genderuwo, dan masih banyak nama unik yang lainnya.
“Pemberian namanya itu ada beberapa nama yang dikasih ide dari saudara, tapi sebagian juga ide dari saya sendri. Yang paling banyak di minati pembeli itu Es Ketel Alam Ghoib, Es Las Vegas, Es Anti Galau, Dan Es Jatuh Cinta,” beber dia.
Triyanto mematok harga Es Ketel dengan harga yang cukup terjangkau yakni mulai Rp 2 ribu hingga Rp 4 ribu. Tak ayal jika banyak pembeli yang menjadikannya pilihan takjil untuk berbuka puasa.
“Kalau Ramadan seperti ini biasanya dapat Rp 700 ribu sampai RP 800 ribu per hari. Kalau hari-hari biasa kemarin bisa sampai Rp 1 juta. Yang penting panas banyak yang beli,” ungkapnya.
Baca juga: Berburu Takjil Bubur India Khas ala Masjid Pekojan Semarang
Lapak milik Triyanto ini sudah memiliki tiga cabang di Kota Solo, yaitu di daerah Sangkrah, Ngemplak, dan di SMA 3 Surakarta. Dengan harga yang ekonomis, Es Kethel Alam Ghoib sukeses menjadi pilihan menu berbuka puasa warga Solo.
“Pas Ramadan seperti ini biasanya ramai itu pas jam-jam menjelang buka puasa, pembelinya kurang lebih 100 sampai 150 orang,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

