31 C
Kudus
Rabu, September 22, 2021
spot_img
BerandaSEMARANGMahasiswa UDINUS Semarang...

Mahasiswa UDINUS Semarang Ciptakan Alat Pendeteksi Diabetes Tanpa Jarum Suntik

BETANEWS.ID, SEMARANG – Mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS) Semarang berhasil menciptakan alat untuk mendeteksi penderita diabetes melitus tanpa jarum suntik yang diklaim baru pertama kali ada di Indonesia.

Alat bernama Gluconov tersebut, merupakan karya mahasiswa Program Studi Teknik Biomedis. Untuk penggunaannya, alat itu tak menimbulkan luka di jari pasien. Sedangkan hasilnya, bisa langsung dilihat melalui aplikasi yang akan ada di smartphone.

Mahasiswa UDINUS menunjukkan alat buatannya yaitu pendeteksi diabetes tanpa jarum suntik. Foto: Dafi Yusuf

Baca juga : Mahasiswa UMK Ini Bikin Belajar Matematika Lebih Asyik dengan Permainan Monopoli

- Ads Banner -

Gluconov diciptakan empat mahasiswa yang bernama Diana Almaas Akbar Rajah, Annelicia Eunice Arabelle, Nadiya Nurul dan Tee dan Kevin Tedjasukmana, mampu memberikan terobosan untuk mendeteksi diabetes melitus dengan akurat dan cepat.

Ketua Tim Diana Almaas Akbar Rajah menjelaskan, alat yang ia ciptakan bersama timnya memiliki berbagai kelebihan dibandingkan alat tes diabetes lainnya.

“Rangkaian spektrofotometri ini digunakan, dikarenakan telah terbukti dapat memberikan akurasi cahaya tampak (merah, kuning, hijau, ungu, biru) dan tentunya dengan perawatan yang mudah,” jelasnya saat ditemui di kampus, Senin (15/03/2021).

Sedangkan untuk harga, alat tersebut banderol Rp 370 ribu dengan garansi 3 tahun.

Ia melanjutkan, spektrofotometri sendiri, merupakan salah satu metode kimia analisis yang digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara materi dengan cahaya.

Dalam penerapannya, metode yang digunakan adalah ekstraksi ciri dengan menggunakan teknik Principal Component Analysis (PCA).

“Metode tersebut terbukti dapat menghasilkan akurasi mencapai lebih dari 95 persen,” ucapnya.

Untuk proses penggunaannya, jari tangan pasien diletakkan pada slot alat yang telah tersedia. Kemudian LDR akan bekerja mendeteksi perubahan intensitas cahaya yang dimiliki oleh darah akibat dari paparan 5 jenis cahaya tampak.

“Perubahan tersebut dihasilkan oleh pembiasaan cahaya putih dengan keping polikarbonat,” imbuhnya.

Baca juga : E-Learning Sunan Fasilitasi Mahasiswa UMK Kuliah Daring, Dikembangkan Sejak 10 Tahun lalu

Mereka menggunakan penggerak otomatis berupa motor kecil. Yakni, tiap pergerakannya dapat mengubah posisi sudut keping polikarbonat sebanyak 30 derajat.

“Hasil deteksi dari proses tersebut akan berupa sinyal analog, kemudian dikonversikan melalui alat bernama Analog to Digital Convertion (ADC),” ujarnya.

Editor : Kholistiono

Lipsus 7 - Sejarah Kereta Api Pertama di Indonesia dan Reaktivasi Jalur Semarang-Lasem

Tinggalkan Balasan

30,414FansSuka
14,922PengikutMengikuti
4,321PengikutMengikuti
52,135PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler