BETANEWS.ID, SEMARANG – Sejak pandemi, bisnis hotel di Kota Semarang mulai kembang-kempis. Bahkan beberapa hotel sudah menyatakan gulung tikar dan hingga terpaksa menjual bangunan hotel melalui situs jual beli online olx.co.id.
Sekjen BPD Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Jateng, Yantie Yulianti mengatakan, dampak pandemi Covid-19 membuat bisnis perhotelan mengalami guncangan hebat. Bahkan, beberapa hotel sudah menyatakan diri gulung tikar.
“Benar, memang banyak hotel yang gulung tikar,” jelasnya saat dikonfirmasi, Jumat (12/03/2021).
Baca juga: Merugi Sejak Sepi Mahasiswa, Kos-kosan di Semarang Dijual Murah di Situs Jual-Beli Online
Menurutnya, banyak pelaku bisnis di Jateng yang tak kuat bayar utang di bank. Hal itu disebabkan sepi pengunjung sejak pandemi Covid-19.
“Kebanyakan tak kuat bayar bank, terutama bagi mereka uang bisnisnya bikin hotel dari utang bank,” ujarnya.
Dia mencontohkan, banyak perusahaan hotel yang rugi di Solo lantaran banyak yang membatalkan pesanan. Berdasarkan laporan yang diterima, angka kerugian hotel di Solo yang diakibatkan pembatalan pesanan mencapai Rp500 juta.
“Jadi itu hanya satu tempat saja ya. Tingkat kerugiaannya sebesar itu. Belum lagi kita hitung di daerah-daerah yang lain,” imbuhnya.
Bagi industri hotel di Jateng, bulan Juli dan Desember merupakan masa-masa panen. Banyak pengusaha hotel yang berharap agar pemerintah melonggarkan aturan.
Baca juga: Reservoir Siranda, Saksi Bisu Pemberontakan Pemuda Semarang Lawan Jepang
“Niatnya libur akhir tahun kemarin untuk menambal biaya di bulan-bulan sebelumnya. Namun, banyak pengunjung yang membatalkan pesanannya,” ucapnya.
Dia menyebut, setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan harus rapid test antigen calon pelanggan beberapa hotel di Jateng langsung banyak yang membatalkan pesannya.
“Makannya, akhir tahun ini diprediksi menjadi panennya hotel-hotel di Jateng, namun tahun ini tak berlaku. Namun kembali lagi, Pemda yang berwenang. Kami berharap agar hotel-hotel dilonggarkan,” tandasnya.
Editor: AHmad Muhlisin

