Terendam Banjir Sejak 5 Hari Lalu, Terminal Jati Kudus Tutup Total

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu terminal Jati Kudus terlihat sepi. Puluhan kios yang berada di terminal utama Kota Kretek itu pun banyak yang tutup, tampak hanya ada tiga kios yang buka. Tempat parkir bus terlihat tergenang air cukup dalam. Begitu juga dengan Jalan Lingkar Selatan yang berada di depan terminal. Dua pintu masuk terminal bagian selatan juga tampak ditutup menggunakan bambu. Dengan kondisi itu, terminal terpaksa ditutup hingga banjir surut.

Ditemui di kantornya, Plt Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Tipe A Jati Kudus, Agung Waluya (56) menuturkan, Terminal Jati mulai kebanjiran sejak Jumat (5/2/2021). Menurutnya, pada hari tersebut banjir belum begitu tinggi, sehingga para penumpang dan bus masih bisa masuk terminal. Namun, pada Minggu (7/2/2021) banjir makin tinggi sehingga pihaknya memutuskan untuk menutup terminal.

Kondisi banjir setinggi 80 sentimeter di Terminal Jati Kudus, Selasa (9/2/2021). Foto: Rabu Sipan.

“Terminal Jati Kudus berarti sudah terendam banjir lima hari, dan sudah tutup tiga hari. Kami memutuskan untuk menutup total terminal karena ketinggian air banjir sekitar 80 sentimeter,” ujar pria yang akrab disapa Agung kepada Betanews.id, Selasa (9/2/2021).

-Advertisement-

Baca juga: Banjir di Jalan Pantura Tanggulangin Kudus Tak Kunjung Surut, Lalu Lintas Tersendat

Pria yang berasal dari Pati itu menambahkan, saat ini tidak ada aktivitas sama sekali seperti menaikkan dan menurunkan penumpang, termasuk angkutan kota (angkot). Namun, beberapa angkot masih ada yang beroperasi di jalan sebelah barat terminal dengan luas sekitar tiga hektare tersebut. Begitu juga untuk bus yang dari dan tujuan Semarang maupun Jakarta.

“Di pinggir pintu masuk sebelah barat terminal ada beberapa loket penjualan tiket ke Jakarta dan sekitarnya. Angkot juga masih ada beberapa yang menaikkan dan menurunkan penumpang di situ. Kalau di dalam terminal tidak ada sama sekali. Kemarin ada angkot masuk terminal malah mogok dan kami ikut mendorongnya,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, sebenarnya kalau bus antarkota antarprovinsi (AKAP) bisa masuk terminal. Namun, karena debit banjir yang terlalu tinggi para calon penumpang tidak bisa masuk terminal. Selain itu, tuturnya, penutupan terminal juga atas pertimbangan agar jalan landasan terminal tidak rusak.

“Penutupan terminal ini ya agar landasan terminal biar tidak cepat rusak. Sebab kalau terminal masih tergenang air dan banyak armada AKAP masuk, landasannya akan terkikis serta rusak. Sedangkan tidak ada rencana anggaran untuk perbaikan terminal,” bebernya.

Baca juga: Banjir di Kudus Tak Kunjung Surut, 4.420 Rumah Terendam dan 17.614 Warga Terdampak

Dia mengakui, selama banjir dan tutup total, memang tidak ada penghasilan sama sekali. Sebab tidak ada retribusi kendaraan masuk terminal, begitu juga untuk retribusi kios. Apalagi, selama ada corona, retribusi terminal sudah turun drastis.

“Selama ada corona retribusi terminal memang turun drastis. Apalagi saat banjir dan tutup total, ya memang tidak ada penghasilan,” ucapnya.

Dia mengatakan, tidak tahu kapan akan membuka kembali Terminal Jati Kudus. Sebab, ia juga tidak tahu kapan air banjir akan surut. Sedangkan jalan satu-satunya agar banjir surut yakni lewat pintu pembuangan ke Sungai Wulan. Padahal saat ini belum ada indikasi tindakan tersebut, karena debit Sungai Wulan tingginya masih seimbang dengan air banjir.

“Untuk membuka terminal kembali, saya belum tahu pasti kapan. Menunggu air banjir surut dan landasan terminal bebas dari air banjir. Sebab kalau saya buka saat landasan masih tergenang banjir bisa merusak landasan terminal. Ya mari berdoa bersama agar banjir cepat surut,” harapnya mengakhiri.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER