BETANEWS.ID, KUDUS – Hawa sejuk begitu terasa merasuk kalbu saat berada di area ladang di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Di lahan pertanian tersebut, tampak seorang perempuan paruh baya sedang memetik tanaman hijau setinggi 30 sentimeter. Dia adalah Tiyamah (65) petani dan penjual tanaman pakis.
Saat didekati, ia tampak memetik tanaman pakis muda sedangkan daun yang kering diambil dan disisihkan. Setelah tanaman pakis yang diambil sudah sesuai keinginannya, kemudian tumbuhan tersebut diikat menggunakan tali bambu. Seusai mengikat, Tiyamah pun sudi berbagi kisah tentang tanaman pakis tersebut.

Dia mengatakan, mulai budi daya tanaman pakis bersama suaminya sejak lima tahun yang lalu. Menurutnya, selama ini di daerah Muria itu terkenal dengan pecel pakis. Penjualnya juga lumayan banyak. Sehingga suaminya pun berinisiatif untuk menanam pakis. Sebab, sebelumnya tanaman para penjual pecel pakis disuplai para pencari pakis yang tumbuh liar di tepi sungai.
Baca juga: Pecel Pakis, Kuliner Legendaris Khas Muria yang Menggugah Selera
“Di wilayah Muria itu terkenal pecel pakis. Penjual pecel pakis banyak, sehingga otomatis permintaan pakis juga banyak. Dari situ suamiku berinisiatif untuk menanam pakis. Karena melihat prospek pasar yang bagus,” ujar Tiyamah kepada Betanews.id, Sabtu (19/12/2020).
Perempuan warga RT 3 RW 3 Dukuh Pandak, Desa Colo, itu menuturkan, suaminya menanam pakis di lahan seluas 700 meter persegi. Menurutnya, menanam pakis sangat mudah perawatannya juga tidak terlalu ribet. Dari awal tanam sampai bisa dipetik hanya butuh waktu sebulan. Setelah 30 hari, tanaman pakis tersebut bisa dipetik atau dipanen setiap hari.
“Setelah sebulan dari awal tanam, pakis sudah bisa dipanen setiap harinya. Setiap hari saya bisa memanen sekitar 50 ikat, kalau akhir pekan permintaan makin banyak, saya bisa memanen lebih dari 100 ikat,” kata Tiyamah yang mengaku tanaman pakis itu dijualnya Rp 2.500 per ikat.
Baca juga: Kecintaannya Pada Alam Muria Menuntun Dian Jadi Pembudidaya Parijoto yang Sukses
Dia mengatakan, tanaman pakis selain dibuat pecel juga bisa dimasak oseng-oseng. Selama ini, permintaan sayuran pakis lumayan banyak, dan cenderung meningkat. Menurutnya, pelanggannya selain penjual pecel di wilayah Colo, juga para penjual pecel di Kecamatan Kudus.
“Bisa dikatakan saya adalah petani pakis satu-satunya di Colo bahkan Kudus. Permintaan sayur pakis sangat banyak, saking banyaknya tak jarang saya tak bisa memenuhi permintaan dan terpaksa menolaknya,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

