BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang pembeli terlihat sedang duduk sambil bercengkerama di komplek kuliner timur DPRD, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Sesekali, mereka melihat seseorang yang sedang membakar adonan di sebuah pemanggangan yang tak jauh dari mereka. Pria yang sedang menyiapkan pesanan pembeli itu adalah Chafid Nugroho (37), pemilik usaha Bubur Bakar Corona.
Hoho, panggilan akrabnya, lantas menjelaskan usaha kuliner unik yang dirintis 12 Oktober 2020 itu. Dia mengatakan, penamaan bubur bakar corona lantaran bubur tersebut disajikan setelah melalui proses pembakaran selama kurang lebih dua menit. Sedangkan nama corona diambil karena kata covid menyerupai nama aslinya yaitu Chafid.

“Penyajian bubur di atas cobek ini, agar setelah bubur dibakar, panas yang dihasilkan awet. Dan juga bertujuan menumbuhkan aroma yang khas,” katanya, Senin (2/11/2020).
Baca juga: Jualan 2 Jam Omzetnya Sejuta Sehari, Depot Bubur Sukses Jadi Primadona Warga Kudus
Penggunaan nama yang unik dan beda ini, lanjut HOHO, karena dia ingin membuka usaha yang belum pernah ada sebelumnya. Bahkan, Bubur Bakar Corona ini ia klaim sebagai yang pertama di Kota Kretek.
Hoho mengungkapkan, usaha kuliner tersebut menyasar semua kalangan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Rata rata, pembeli yang sudah mencicipi bubur tersebut merasa cocok. Karena memang bubur tersebut disajikan secara unik dan rasa yang nikmat.
“Kebanyakan pembeli yang sudah mencicipi bubur ini cocok dengan rasanya. Kadang mereka juga rikues tambah kuah, karena rasa kuahnya yang enak dan menggundang selera makan,” ujar warga Desa Jati Wetan RT 6 RW 2, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu.
Baca juga: Melihat Lebih Dekat Pembuatan Bubur Asyura di Menara Kudus
Sampai saat ini, pemasarannya masih dari mulut ke mulut melalui teman dan keluarganya. Selain itu juga lewat media sosial Facebook. Hoho mengaku, penjualan bubur bakar miliknya stabil, untuk warung yang baru buka selama belasan hari. Dalam sehari, warung bubur bakar miliknya itu bisa menjual 10 hingga 15 porsi.
“Harga bubur bakar per porsi ini Rp 10 ribu. Selain bubur bakar, di warung bubur bakar ini juga menyediakan telur asin biasa dan telur asin bakar. Harga telur asin biasa Rp 3 ribu, sedangkan untuk harga telur asin bakar Rp 4 ribu,” ungkapnya di warung yang buka setiap hari mulai pukul 14.00 WIB hingga 22.00 WIB itu.
Salah satu pembeli, Wira Kesuma (26) mengatakan, rasa bubur bakar di warung Hoho enak dan ada banyak topingnya. Bahkan, ia sangat suka dengan kuahnya yang beda dengan bubur lain.
“Rasanya beda dengan bubur lain. Apalagi kuahnya enak banget,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

