BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu Ahmad Sururi (39) tampak sibuk di galeri sekaligus rumahnya yang berada di Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Dia tampak menggergaji fiber pigura. Sedangkan di dinding galeri tersebut tampak terpampang belasan kaligrafi siap jual. Ahmad Sururi, merupakan perajin kaligrafi yang sejak masih sekolah dan hasil karyanya pernah di ekspor ke Cina.
Seusai menggergaji, pigura tersebut kemudian dirangkai. Saat perangkaian itulah, Ahmad Sururi sudi berbagi penjelasan tentang usahanya. Dia mengatakan, menekuni jadi perajin kaligrafi sejak masih duduk di kelas satu madrasah aliyah (MA). Dari dulu hingga sekarang, hasil karya tulis kaligrafinya banyak diminati. Bahkan, dulu itu pernah ekspor ke Negeri Tirai Bambu.

“Sekitar lima tahun lalu memang saya pernah mendapatkan orderan kaligrafi dari Cina. Pada tahun tersebut, kaligrafi memang lagi laris – larisnya. Selain mengirim ke Cina saya juga banyak dapat orderan dari kota – kota besar di Indonesia,” ujar pria yang akrab disapa Sururi kepada betanews.id, Minggu (26/9/2020).
Baca juga : Tak Hanya Garapan yang Rapi, Harga Murah Bikin Anugrah Pigura Banjir Pesanan
Dia pun kemudian berkisah tentang perjalanannya mejadi perajin kaligrafi. Katanya, sejak kecil ia suka dengan seni tulisan khat. Untuk memperdalam ilmu, ia pun belajar penulisan khat kepada maestro penulisan khat Kudus, yakni almarhum HM Noor Aufa Shiddiq, di sela kesibukannya sekolah. Saat itu, ia mengaku masih duduk di Madrasah Tsanawiyah (MTs).
“Saya belajar selama tiga tahun. Dari mendiang HM Noor Aufa Shiddiq saya belajar penulisan khat yang benar, serta mengaplikasikan tulisan khat pada berbagai media. Ada kertas, kain, stereofom dan lain sebagainya,” beber pria yang berasal dari Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus itu.
Setelah mahir, tuturnya, ia pun membuat beberapa karya kaligrafi yang kemudian dipajang di dinding rumahnya. Saat dipajang itulah ada beberapa tetangga dan temannya yang main ke kediamannya bertanya siapa yang membuat kaligrafi itu. Dia menjawabnya, bahwa yang membuat kaligrafi itu dirinya sendiri. Ternyata mereka tertarik, dan pesan untuk dibuatkan kaligrafi serupa.
“Berawal dari pesanan tetangga dan temannya itu, kemudian dari mulut ke mulut orderan pembuatan kaligrafi ada terus menerus setiap harinya. Padahal saat itu saya masih sekolah kelas satu aliyah. Semua orderan saat itu saya kerjakan usai pulang sekolah. Tak jarang pengerjaannya sampai malam,” jelas Sururi.
Pria yang sudah dikaruniai tiga anak itu mengatakan, setelah sekolah ia kemudian mengembangkan usahanya. Dia pindah dari Desa Undaan Lor kemudian menyewa satu bangunan di komplek kios lentog di Desa Tanjung Karang. Menurutnya, sejak pindah tersebut usaha kaligrafinya semakin dikenal. Tidak hanya orang Kudus saja, tapi juga dari luar kota.
“Saya berfikirnya saat itu, kalau saya buka galeri di komplek kios Lentog Tanjung, karya saya akan banyak dilihat orang. Sebab Lentog Tanjung kan banyak diburu pecinta kuliner dari berbagai daerah,” ujarnya.
Baca juga : Mulai Langka, Koleksi Buku Bekas Erik Mampu Tembus Pasar Luar Negeri
Benar saja, lanjutnya, selama enam tahun membuka galeri di tempat tersebut, kaligrafi hasil karyanya laris manis dibeli dan dipesan banyak orang. Hingga hasilnya ia mampu beli tanah dan bangun rumah sekaligus dijadikan galeri untuk memajang hasil karyanya.
Dia mengatakan, melayani pesanan pembuatan kaligrafi dengan barbagai media. Di antaranya, kanvas, kertas, kain, alumunium foil, steorofoam, kuningan, fiber, beton dan lain sebagainya. Dia memberi jaminan, hasil karyanya tersebut tidak akan mengecewakan. Hasilnya bagus dan harga yang bisa disesuaikan dengan uang para pelanggan.
“Semoga saja usaha saya ini makin berkembang, karya saya makin dikenal dan diminati,” harap Sururi yang mengaku saat ini juga melayani order pembuatan mahar untuk pernikahan.
Editor : Kholistiono

