BETANEWS.ID, KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus menyebutkan, angka kehamilan di Kudus saat pandemi Covid-19 tercatat stabil. Meski ada kebijakan work from home (WFH), namun jumlah ibu hamil di Kudus tidak terjadi lonjakan signifikan.
Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Muslimah menuturkan, dari Januari 2020 hingga awal Oktober 2020, tercatat ada 10.085 ibu hamil di Kudus. Sedangkan untuk tahun 2019, tercatat ada sekitar 15 ribu ibu hamil.
“Artinya tidak ada lonjakan kehamilan. Tidak ngaruh saat ada imbauan WFH saat pandemi,” tuturnya Selasa (6/10/2020).
Baca juga : Dari 11 Kasus Kematian Ibu Melahirkan di Kudus, 4 di Antaranya Terkonfirmasi Positif Corona
Namun, menurut Muslimah, jika dalam setahun tercatat ada 15 ribu angka kehamilan, Kudus termasuk memiliki angka kehamilan yang cukup tinggi. Selain itu, hasil dari pengamatannya, ibu hamil di Kudus termasuk dalam kategori pemberani memiliki banyak anak.
“Apa mungkin karena Kota Santri atau karena faktor yang lain, saya kurang tahu,” jelasnya.
Muslimah berpesan, ibu yang ingin hamil agar memastikan kondisi kesehatannya terlebih dahulu. Karena di Kabupaten Kudus ternyata risiko ibu meninggal saat melahirkan masih tinggi sekitar 28 persen dari angka normal 20 persen.
“Kalau mau hamil lagi dicek dulu kesehatannya. Cek semua fungsi tubuhnya, masih fungsi semua atau ada masalah. Jadi, nanti saat melahirkan akan baik-baik saja,” tambahnya.
Dikatakan Muslimah, faktor masalah kasus risiko kematian ibu melahirkan yakni karena terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak dan terlalu sering (4T). Dia menjelaskan, terlalu muda yakni ibu yang hamil di bawah 20 tahun. Selanjutnya, terlalu tua yakni lebih dari 35 tahun. Sedangkan terlalu banyak, yakni lebih dari tiga anak dan terlalu sering yakni kurang dari dua tahun.
“Faktor risiko lain yakni ALK. A itu Anemia, L itu Lila (ukuran lingkar lengan atas) kurang dari 23,5 sentimeter dan K itu Kronis. Jadi penyakit kronis seperti jantung, hipertensi, asma, kencing manis,” terangnya.
Menurutnya, dengan faktor risiko ibu hamil seperti itu, akan memberikan dampak buruk terhadap anak. Terutama, risiko terhadap ibu yang meninggal.
Baca juga : Pengajuan Dispensasi Nikah di Kudus Mayoritas Disebabkan Hamil Duluan
“Masalahnya itu, paling sering Preeklampsia (gangguan terkait kehamilan berupa tekanan darah tinggi yang disertai proteinuria dan pembengkakan akibat penumpukan cairan (edema), baik pada tungkai, tangan, bahkan seluruh tubuh, red),” tuturnya.
Muslimah memberitahukan, angka kematian ibu melahirkan di Kudus dari bulan Januari hingga awal Oktober 2020 yakni 11 kasus. Sedangkan tahun 2019 juga sama 11 kasus.
Sementara itu, angka kematian bayi di Kudus dari bulan Januari hingga Agustus 2020 sejumlah 88 kasus. Dia merinci, bayi yang meninggal yakni usia 0-6 hari sejumlah 52 orang, 7-28 hari sejumlah 15 orang dan usia 29 hari hingga 11 bulan yaitu 21 orang.
Editor : Kholistiono

