BETANEWS.ID, KUDUS – Angin berhembus kencang menggerakkan sisa-sisa atap dari seng di Lantai 3 Mall Matahari Kudus. Suara seng berbenturan terdengar mengiringi pameran Art Exhibition Moriah yang digelar Pimpimpoh. Seorang pria terlihat berjalan menghampiri dua orang yang baru datang ke sana.
Ia tak lain adalah Ririn Pujianto (23), Koordinator pameran tersebut. Setelah menyapa tamu, dia berbagi penjelasan kepada betanews.id tentang pameran yang memanfaatkan puing-puing sisa kebakaran itu.

“Dalam pameran ini ada delapan titik lokasi. Kami memanfaatkan benda sisa kebakarang yang ada di sini. Pimpimpoh ini kumpulang pemuda yang ingin berekspresi. Dan kami ingin ada acara pameran untuk pegiat seni rupa, khususnya memberi ruang generasi muda yang ingin berkarya di setiap tahun,” terangnya, Jumat (17/9/2020).
Kaye begitu dia akrab disapa menjelaskan satu persatu pameran yang ada. Pertama tentang keretakan dan sudut pandang. Menurutnya, seniman adalah pekerjaan yang berisiko dengan keretakan. Karena banyak dogma-dogma yang rentan membuat keretakan.
Baca juga : Art Exhibition Moriah, Pesan Cinta untuk Kota Kretek
Kedua tentang keluargaan, ada meja makan dengan empat kursi dan tiga pasang sepatu. Ada satu kursi yang tidak diberi sepatu, menunjukan ketidakadilan. Dirinya ingin menyampaikan pesan tentang keadilan dalam membuat kebijakan.
“Ketiga, ini susunan pecahan kaca yang membentuk mahkota. Kami beri nama Kuasakit, tentang pemimpin yang harus siap menahan rasa sakit. Keempat, ini namanya Seng-Song, tentang suara dari benda mati. Mengibaratkan suara rakyat yang tidak merdu tapi harus didengar,” ungkap pria asli Pati itu.
Kemudian Kate berjalan menuju pameran kelima. Dengan judul Domestik, tentang mall yang menjadi tempat berjualan make up. Ingin menyampaikan pesan tentang kosmetik itu tidak abadi, hanya memperindah tampilan luar.
“Jadi pasti akan luntur pada saatnya. Jadi jangan menilai orang dari tampilan luar saja. Keenam ini ada kaki di dalam toilet. Tentang kasus-kasus yang belum terungkap dan kita hanya bisa menonton saja,” jelasnya.
Kemudian berjalan menuju sisa-sisa kertas yang terbakar yang ditempel di dinding. Itu merupakan pameran ketujuh, tentang arsip yang dimusnahkan demi kepentingan merubah sejarah.
Dan yang terakhir menunjukan sebuah lukisan, sebuah wajah yang tertutup dan luntur. Lukisan itu tentang lunturnya generasi muda yang mulai tidak mengenal sejarah.
Editor : Kholistiono

