Penulis: Sumardi

Dosen Program Studi Teknologi Pangan, Unika Soegijapranata

Pandemi covid-19, berakibat pertumbuhan ekonomi kuartal II tahun 2020, terkontraksi -5,32% (y-o-y). Dibanding tahun 2019 sektor pertanian masih tumbuh 2,19% (y-o-y), yang mendorong kontribusi PDB Pertanian meningkat 16,24% (q-to-q). Disamping meningkatnya produksi, peningkatan ini disebabkan naiknya Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 0,49% menjadi 100,09.

Konsumsi rumah tangga, yang selama ini berkontribusi 57% ekonomi nasional, menjadi penyumbang kontraksi terbesar, -2,93% (y-o-y). Komponen yang kontraksinya terbesar adalah konsumsi di luar rumah -16,53% diikuti transportasi dan komunikasi -15,33% (y-o-y). Sementara konsumsi makanan dan minuman, hanya turun -0,17% (y-o-y). Bahkan karena pada kuartal I sebesar 5,01%, maka dibanding tahun 2019, masih meningkat 2,13% (c-to-c).

Di sisi lain, peningkatan produksi (y-o-y) padi dan palawija, sayur dan buah berturut-turut sebesar 9,23%, 1,18% dan 0,57%; Peternakan dan Perikanan berturut-turut menurun -1,83% dan -0,63%. Sedang NTP padi dan palawija meningkat 0,13%, sayuran 0,84%, buah-buahan 3,71%, peternakan 1,68%, dan perikanan 0,69%.

Peningkatan kontribusi PDB dari Sektor Pertanian tersebut, pada dasarnya disebabkan menurunnya PDB sektor-sektor lain yang lebih besar. Mengingat hampir semua produksi pertanian sebagian atau seluruhnya untuk konsumsi rumah tangga, maka penopang utama ekonomi makro Indonesia di masa pandemi ini pada dasarnya adalah minat, selera dan daya beli masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.

Indikator utama adalah konsumsi beras dan sayuran yang volumenya besar, sehingga sekalipun NTP-nya relatif kecil, peranannya secara makro besar. Konsumsi produk peternakan dan perikanan, terutama daging dan ikan sekalipun volumenya menurun, tetapi ditutup NTP tinggi.

Indikator yang menarik adalah konsumsi buah-buahan, yang peningkatan volume dan NTP-nya relatif besar. Pertanyaannya adalah, “Apakah selama pandemi konsumsi buah lokal meningkat dan masyarakat tidak keberatan membeli dengan harga yang lebih tinggi?” Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita lihat data ekspor dan impornya.

Dari sisi impor, pengekspor buah ke Indonesia utama adalah China, Australia, dan Amerika, yang tahun 2019 mencapai US$ 1.078 juta, atau 72,5% seluruh impor buah. Hiruk pikuk covid-19 di China yang melebar ke negara-negara lain di awal 2020, membuat pemerintah Indonesia membatasi impor dari negeri itu mulai Maret, yang diikuti Amerika dan Australia. Impor produk pertanian dari Amerika didominasi kedelai dan gandum karena kontrak jangka panjang.  Demikian juga Australia, didominasi bakalan sapi dan gandum.

Dari sisi ekspor, sampai akhir kuartal II 2020, volume ekspor buah naik 23,21% senilai US$ 430 juta. Tujuannya tidak hanya ke pasar-pasar konvensional seperti ASEAN, India, Hogkong, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab, tetapi juga pasar-pasar baru Arab Saudi, Spanyol, dan Prancis. Buah-buahan yang diekspor juga tidak hanya pisang, jeruk, mangga, dan nanas, tapi juga rambutan, manggis, salak, buah naga, dan bahkan durian.

Terlepas dari rentetan keberuntungan tersebut, patut kita catat bahwa konsumsi buah domestik ternyata dapat ditingkatkan ketika ketersediaan buah impor dikurangi. Edukasi perlu dilakukan bahwa buah-buah lokal yang rasanya lebih masam, tidak semanis buah impor, justru mengandung asam-asam organik maupun mineral-mineral yang penting untuk kesehatan dan dalam masa pandemi ini dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh secara alamiah.

Tinggalkan Balasan