31 C
Kudus
Rabu, Februari 11, 2026

Empat Kelas di SDN 2 Purwosari Atapnya Terancam Ambruk

BETANEWS.ID, KUDUS – Atap di empat ruangan SDN 2 Purwosari terancam ambruk jika tak segera diperbaiki. Kerusakan ini sudah berlangsung lama dan menunggu Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Kudus untuk merenovasinya.

Operator sekolah SDN 2 Purwosari Rahardiani menuturkan, empat kelas dari enam kelas yang membutuhkan renovasi itu adalah kelas satu, tiga, lima, dan enam.

“Yang paling parah kelas tiga dan lima,” tuturnya saat ditemui di SD 2 Purwosari, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, Jumat (18/9/2020).

-Advertisement-
Atap di ruang kelas SDN 2 Purwosari harus disangga bambu agar tidak ambruk. Foto: Imam Arwindra.

Dia menjelaskan, kerusakan yang terjadi yakni pada atap kelas. Karena takut sewaktu-waktu bisa roboh, pihaknya sampai harus menyangga dengan bambu agar atap kelas tidak ambruk.

“Yang disangga itu kelas ini saja. Kelas tiga. Kalau hujan pasti banjir,” jelasnya.

Baca juga: Atap Bangunan SDN 1 Loram Wetan Runtuh, Sudah Lapuk Sejak Lama

Rahardiani memberitahukan, sebernarnya untuk kelas tiga sudah tidak digunakan sejak awal tahun 2019. Hal tersebut dilakukan karena pihaknya khawatir jika akan terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.

“Jadi kelas tiga pindah di kelas empat. Kelas empat karena siswanya lebih sedikit pindah ke lab (labolatorium),” tuturnya yang memiliki siswa sejumlah 133 orang itu.

Pihaknya juga mengaku sudah berkali-kali mengajukan proposal perbaikan bangunan. Namun, Disdikpora baru sebatas melakukan survei dan tidak ada kejelasan soal perbaikan atap.

“Jika tahun ini kami diberi anggaran, kami sangat senang. Walau tidak keseluruhan bisa diperbaiki. Senang sekali jika semuanya diperbaiki,” tambahnya.

Baca juga: Sekolah Daring Bikin Orang Tua Emosi, Hartopo Kaji Belajar Tatap Muka

Menurut Rahardiani, di musim hujan, dirinya bersama guru dan siswa harus berulang kali mengepel lantai. Hal tersebut karena air yang datang dari kelas tiga mengalir ke lorong dan kelas di sebelahnya.

“Ya cukup merepotkan. Kadang kami ajak siswa itu kerja bakti. Itukan juga kurang baik,” tandas Rahardiani.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER