BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan Sudirman, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus tepatnya di sebelah Timur Pasar Kliwon, tampak sebuah mobil Luxio. Di bagian belakang mobil terlihat seorang perempuan sedang menata dagangannya. Perempuan tersebut yakni Alifah Juniarti (34) penjual Kerupuk Slondok.
Seusai menata dagangannya sambil menunggu calon pembeli, perempuan yang akrab disapa Yuni itu sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengatakan, mulai dagang Kerupuk Slondok sejak April 2020. Menurutnya, jualan kerupuk itu sebagai alternatif untuk pemasukan keluarga. Sebab usaha suaminya sejak ada pandemi mengalami mati suri.

Baca juga : Sempat Bangkrut dan Terlilit Utang, Lilik Bangkit Kembali Produksi Kerupuk Bandung
“Sejak virus Corona mewabah, usaha lencana suami saya sepi orderan. Bisa dibilang tidak ada penghasilan sama sekali. Sebab itulah, sebagai seorang istri saya pun cari solusi dengan berjualan Kerupuk Slondok,” ujar Yuni kepada betanews.id, Rabu (12/8/2020).
Perempuan warga Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus itu menuturkan, ide untuk berjualan Kerupuk Slondok, setelah ia berunding sama kakaknya yang bekerja di jasa tour. Kakaknya tersebut juga sejak ada pandemi juga jadi pengangguran, kemudian disepakati jualan Kerupuk Selondok, kerupuk oleh – oleh khas Magelang.
“Awal pertama saya bawa 300 bungkus, dan alhamdulillah laris manis. Total tersebut habis dalam tempo empat hari,” ungkapnya.
Menurutnya, peminat kerupuk dengan bahan dasar singkong itu tidak hanya orang Kudus saja. Namun banyak juga yang dari lain daerah. Di antaranya, Pati, Jepara, Demak, dan kota lainnya. Karena pelanggan makin banyak, kini setiap belanja ke Magelang jumlahnya pun ditambah jadi 450 bungkus.
“450 bungkus Kerupuk Slondok itu biasanya habis selama empat hari. Sedangkan harga satu bungkus Kerupuk Selondok dijual dengan harga Rp 20 ribu per bungkus,” jelasnya.
Dengan harganya yang lumayan mahal itulah, yang jadi alasan ia berjualan kerupuk menggunakan mobil. Tujuannya, agar mereka yang akan membeli sudah faham, kalau Kerupuk Selondok harganya tidak sama dengan kerupuk biasa. Sebab, dia pernah jualan Kerupuk Selondok digantung di kayu, respon para pembeli kaget saat dikasih tahu harganya.
“Hal itu berbeda saat saya jual menggunakan mobil. Seolah mereka itu maklum saat saya kasih tahu harganya. Namun sekarang, atas permintaan pelanggan saya menyediakan kemasan harga Rp 10 ribu per bungkus,” bebernya.
Dia menuturkan, Kerupuk Slondok berbahan dasar singkong itu berbumbu. Sehingga kerupuk tersebut punya aneka rasa, yakni pedes, manis, gurih, yang sangat digemari. Dia mengaku, berjualan setiap hari mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB. Kalau malam Minggu ia jualan di Balai Jagong, Kudus.
Baca juga : Siasat Kerupuk Bandung Enak Rasa Bertahan di Tengah Pandemi
“Saya menerima pembelian ecer dan grosir dengan minimal pembelian 50 bungkus,” ujarnya.
Dia berharap, Covid-19 segera berlalu. Agar usaha suaminya ada order dan jalan lagi. Dia pun berharap jualan Kerupuk Slondoknya makin laris. Sebab ia berencana tetap melanjutkan berjualan kerupuk, agar penghasilan keluarga tidak bersumber dari satu bidang saja.
“Semoga saja corona cepat hilang, sehingga usaha suami saya bisa lancar lagi. Serta jualan kerupuk saya juga makin laris,” harapnya.
Editor : Kholistiono

