Penulis: Lindayani

Dosen Program Studi Teknologi Pangan, Unika Soegijapranata

menu dan pola makan sering menjadi bahan diskusi terkait upaya peningkatan daya tahan tubuh selama masa pandemi. Padahal, sebenarnya ada dua sumber lain yang tersedia dan gratis, yaitu sehat spiritual dan sinar matahari. Dua asupan ini dapat dimanfaatkan dengan bijaksana oleh setiap individu dan yang diperlukan hanyalah kesadaran dan kemauan.

Spiritual merupakan suatu kepercayaan dalam hubungan antar manusia dengan kekuatan di atasnya. Ini  berhubungan dengan kepercayaan dan keyakinan individu terhadap Sang Pencipta. Sehingga, sehat spiritual bisa menjadi penyeimbang seluruh komponen tubuh, emosi, dan pikiran.

Sehat spiritual dapat terjadi jika relasi antara sehat jasmani, mental, dan rohani seimbang. Makanya, sehat spiritual tidak dapat dicari dari sumber makanan apapun karena merupakan relasi setiap individu dengan yang diyakini. Untuk sehat spiritualnya, setiap individu mempunyai value yang berbeda-beda tergantung dari apa yang diusahakan melalui pencarian yang dapat diperoleh dari keyakinan masing-masing.

Sedangkan sinar matahari merupakan anugerah tak terbilang dari Sang Pencipta. Merujuk pada beberapa sumber, terpapar sinar matahari yang mengandung sinar ultraviolet B (UVB) akan mengawali sintesis vitamin D. Mekanismenya, panas tubuh akan mengubah previtamin D yaitu 7-dehidrokolesterol yang tersebar di seluruh tubuh menjadi bentuk akhir yang lebih aktif. Vitamin D yang berasal dari dalam tubuh ini akan berada di kapiler kulit lebih lama dibandingkan dengan vitamin D yang berasal dari makanan dan suplemen.

Terpapar sinar matahari 5-30 menit setiap 2-3 kali sepekan cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D tubuh. Beberapa pakar kesehatan memberi informasi bahwa waktu yang baik untuk berjemur di bawah sinar matahari yaitu mulai pukul 10.00 sampai 14.00 ketika sinar UVB memuncak dan relatif stabil yakni 1-2 MED per jam. Pada saat sinar UVB memuncak, waktu yang diperlukan untuk berjemur dapat lebih singkat. Untuk memenuhi kebutuhan vitamin D dalam tubuh, minimal 20 persen permukaan kulit tubuh terpapar sinar matahari secara langsung tanpa terhalang pakaian atau tabir surya.

Pada saat kulit terpapar oleh sinar matahari, 7-dehidrokolesterol akan menyerap radiasi sinar UVB dengan panjang gelombang 290-315 nm yang selanjutnya memecah dan mengubah ikatan cincin kimia pada 7-dehidrokolesterol menjadi previtamin D3. Previtamin D3 secara termodinamik bersifat tidak stabil yang menyebabkan isomerisasi menjadi vitamin D3 akibat induksi suhu.

Setelah terpapar oleh radiasi sinar UVB dalam waktu cukup lama, perubahan 7-dehidrokolesterol akan mencapai keadaan tunak (steady state) yaitu ketika 7-dehidrokolesterol yang berada di kulit diubah sebanyak 10-15 persen. Ketika terpapar oleh sinar matahari yang berlebihan tidak akan menyebabkan intoksikasi vitamin D3. Maka, manusia dapat memperoleh asupan vitamin D lebih banyak jika ada kemauan untuk berjemur dibandingkan dengan asupan vitamin D dari makanan dan suplemen.

Sehat spiritual dan sinar matahari dapat menjadi pilihan untuk “menjinakkan” covid-19. Tentu saja kedua hal tersebut menjadi keputusan masing-masing pribadi dan perlu juga diimbangi dengan asupan makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Tinggalkan Balasan