BETANEWS.ID, KUDUS – Lalu lintas di jalan Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus terlihat ramai, Kamis (20/8/2020) sore itu. Puluhan sepeda motor dan mobil plat luar Kudus sering terlihat memasuki desa tersebut. Beberapa parkiran yang disediakan warga juga terlihat penuh oleh kendaraan para pengunjung. Mereka yang datang adalah para petapa yang akan ngalap berkah di Desa Rahtawu.
Kepala Desa Rahtawu Rasmadi Didik Ariyadi (48) menuturkan, setiap memasuki Tahun Baru Muharam atau Bulan Suro, desa tersebut jadi jujugan para petapa dari berbagai daerah. Jumlahnya pun mencapai puluhan ribu. Tercatat pada pukul 17.00 WIB saat malam satu Suro, sudah ada lebih 25 ribu pengunjung yang datang di Desa Rahtawu.

“Di Desa Rahtawu terdapat banyak tempat pertapaan. Lokasinya ada yang di dataran rendah maupun puncak gunung. Dan setiap Bulan Suro semua pertapaan itu ramai dikunjungi pengunjung atau para petapa,” ujar pria yang akrab disapa Didik kepada Betanews.id.
Pria yang menjabat kepala desa periode 2019-2025 itu menambahkan, pengalap berkah itu datang dari berbagai daerah. Ada yang dari Kudus, Pati, Jepara, Demak, Purwodadi, Blora, Semarang, dan daerah lainnya. Sedangkan jumlah petapa yang datang tahun ini turun drastis dibanding tahun sebelumnya. Menurutnya, penurunan itu terjadi akibat adanya pandemi corona. Sedangkan jumlah penurunannya sekitar 50 persen.
Baca juga: Air Tiga Rasa Peninggalan Syekh Sadzali Dipercaya Punya Banyak Khasiat
“Di Bulan Suro tahun ini pengunjung yang datang memang mengalami penurunan. Separuhnya dari tahun sebelumnya yang bisa sampai 40 ribu pengunjung,” beber pria yang mengenakan kemeja putih tersebut.
Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu menuturkan, para pengunjung atau petapa yang datang ke Desa Rahtawu biasanya untuk ngalap berkah di beberapa tempat wisata religi. Di antaranya pertapaan Eyang Buyut Sakri, Eyang Lokajaya, Eyang Naradha, Eyang Gajah Mada, Eyang Abiyoso, Eyang Semar, dan masih banyak lagi.
Menurutnya, para pengunjung yang datang ada yang menginap atau bertapa beberapa hari di pertapaan. Serta ada juga beberapa orang yang datang pagi, kemudian pulang sore harinya. Sedangkan setiap pengunjung yang masuk Desa Rahtawu pada Bulan Suro dikenakan biaya masuk Rp 3 ribu per orang.
“Uang tersebut sebagai biaya kebersihan, yang dikelola oleh karang taruna Desa Rahtawu,” ungkapnya.
Baca juga: Tradisi Resik-Resik Sendang, Wujud Syukur Warga Wonosoco Atas Berkah Alam
Satu di antara pengunjung, Sukarno (64) mengatakan, setiap satu Suro selalu datang ke Desa Rahtawu Kudus. Hal tersebut sudah ia jalani sejak 1978. Tujuan datang ke desa yang berada di ujung tenggara dan berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Kudus itu untuk mengalap berkah.
Dia mengakui, ke Rahtawu untuk ziarah di pertapaan Eyang Buyut Sakri, terus naik ke pertapaan Eyang Abiyoso, dan Eyang Bambang Pulosoro. Dia mempercayai, orang yang berdoa di ketinggian puncak gunung, doanya akan dikabulkan Sang Kuasa.
“Saya datang pas tanggal satu Muharom. Ini langsung naik ke pertapaan Eyang Abiyoso. Serta besok paginya baru turun dan pulang. Saya sengaja datang di satu Muharam, sebab nanti malam saat saya sudah di atas, itu bertepatan dengan tanggal malam satu Suro, sesuai penanggalan Jawa Aboge,” tutup warga Demak itu.
Editor: Ahmad Muhlisin

