BETANEWS.ID, KUDUS – Mugiono (47) masih sibuk mengambil air dari sumber air berdiameter 45 sentimeter. Dengan menggunakan cangkir plastik, dia menuangkan sedikit demi sedikit ke dalam jeriken yang dibawanya. Air yang diambilnya itu adalah mata air tiga rasa Rejenu, petilasan Syekh Hasan Sadzali yang berada di Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus.
Jeriken berukuran 20 liter tersebut diisi dari tiga mata air yang berbeda. Menurut Mugiono, ketiga air yang berasal dari tiga sumber itu memang punya rasa yang berbeda satu sama lain. Namun, keseluruhannya memberikan rasa segar, dan dipercaya punya banyak manfaat.

“Saya sedikit sulit membedakannya. Namun, ada yang seperti soda, ada yang manis,” tuturnya saat ditemui di mata air tiga rasa, Kamis (20/8/2020).
Menurut peziarah yang datang dari Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora itu, dirinya sudah tiga kali datang ke Rejenu untuk mengambil air tiga rasa dan berziarah ke makam Syekh Hasan Sadzali. Waktu yang ditentukan yakni Bulan Muharram dan Bulan Syakban.
“Jadi tidak harus bulan Muharram. Kesininya Ruwah (Syakban) dan Muharam,” jelasnya.
Baca juga: Masjid Wali Hadiwarno, Satu Abad Lebih Tua dari Masjid Menara Kudus
Hari itu, Mugiono datang bersama rombongan berjumlah 11 orang. Dia datang menggunakan kendaraan travel. Dikatakan Mugiono, dirinya membawa air tiga rasa supaya mendapatkan berkah dalam menjalani kehidupan satu tahun ke depan. “Semoga mendapatkan keberkahan,” tuturnya.
Sama dengan Mugiono, Ahmad, peziarah yang datang dari Semarang mengaku sudah sering datang ke Rejenu. Dirinya mengaku datang ke Rejenu tidak harus pada Muharam.
“Jadi tidak harus bulan Muharam. Bisa bulan-bulan yang lainnya. Namun bulan ini kan bagus. Awal bulan Hijriah,” tuturnya.
Dirinya yang datang bersama ibunya mengaku setiap datang ke Rejenu selalu meminum air tiga rasa dan sekaligus berziarah ke Makam Syekh Hasan Sadzali. “Ya, airnya segar dan memang rasanya berbeda,” tuturnya.
Baca juga: Wayang Klithik, Warisan Budaya Penanda Berdirinya Desa Wonosoco
Sementara itu, Juru Kunci Makam Syekh Hasan Sadzali, Sarono menuturkan, setiap tahunnya, peziarah banyak datang di Bulan Muharam dan Bulan Syakban. Menurutnya, sebelum ada pandemi dalam sehari rata-rata 150 orang mendatangi makam guru Sunan Muria itu. Namun, saat pandemi yang datang hanya seperempatnya saja.
Menurut Sarono, peziarah yang datang tidak hanya dari pulau Jawa saja, melainkan dari luar pulau Jawa bahkan dari negara Malaysia.
“Mulai ada Corona libur. Dibuka lagi setelah Hari Raya Idul Fitri. Itu pun dibatasi hanya pukul lima sore. Namun, setelah 1 Muharam akan buka 24 jam lagi,” bebernya.
Mengenai air tiga rasa, kata Sarono, air tersebut merupakan keramat dari Syekh Hasan Sadzali. Karena air keramat, debit airnya selalu stabil saat musim kemarau dan hujan. Selanjutnya, rasa yang dihasilkan dari ketiga sumber air tersebut juga akan berbeda.
“Memang berbeda. Namun, lagi-lagi tergantung orang yang merasakannya,” jelasnya.
Baca juga: Dibangun Sunan Kudus dan Arya Penangsang, Begini Sejarah Masjid Wali Jepang
Menurut kepercayaan masyarakat, air tersebut dapat menjadi perantara obat dan kesuksesan. Hal tersebut lagi-lagi tergantung keyakinan dan kesungguhan berdoa serta berikhtiar kepada Allah.
“Air tiga rasa itu kalau mau diminum diniati dulu. Kalau mantap akan diijabah (dikabulkan) oleh Allah,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

