BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa serpihan fragmen fosil gading gajah purba nampak masih tergeletak di salah satu sudut ruangan Museum Patiayam, siang itu. Seorang petugas nampak memeriksa dan merapikan beberapa fragmen fosil. Sementara itu, fragmen-fragmen fosil purba yang masih berlumur tanah lebih banyak dijumpai di lantai 2 gedung yang beralamat di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus tersebut.
Di sanalah, fosil situs purba Patiayam disimpan dan dirawat. Penemuan-penemuan fosil di area Gunung Patiayam masih terus ditemukan. Baik itu oleh tim arkeolog Museum Situs Patiayam, maupun fosil yang ditemukan oleh warga setempat. Seperti halnya dua fosil terbaru yang diserahkan oleh warga kepada petugas museum.

“Ini penemuan fosil terbaru oleh warga. Penyerahannya sendiri sekitar bulan Februari lalu. Kalo yang terbaru ini berupa fosil gading gajah. Dan masih banyak temuan baru yang belum dikonservasi di lantai 2,” kata Arif Mustaqim (34) selaku petugas museum, Selasa (11/8/2020).
Baca juga : Jejak Makhluk Purba di Museum Patiayam
Lelaki yang merupakan Desa Terban tersebut, selanjutnya memperlihatkan fosil-fosil lain yang disimpan. Ia mengatakan, jika temuan fosil bermacam-macam. Mulai dari fosil hewan darat, hewan air maupun fosil tumbuhan. Namun untuk sementara ini paling banyak adalah fragmen gajah purba. Setelah itu ia memperlihatkan perbedaan temuan fosil baru yang berjumlah sekitar 8.000 fragmen.
“Jadi karena area Patiayam ini sebagian berada di tanah warga dan lahan Perhutani yang digarap oleh warga, jadi kami sudah mengumumkan untuk menyerahkan temuan itu ke museum. Jadi fosil yang ada di sini tidak hanya dari tim. Dari penemuan warga juga. Namun, karena warga bukan tim ahli, jadinya ada perbedaan dari bentuk penemuan,” ungkap dia.
Dikatakan lelaki yang akrab disapa Taqim tersebut, jika perbedaan yang dimaksud adalah bentuk fosil. Fragmen yang ditemukan dan diselamatkan oleh tim bentuknya sebagian besar masih utuh. Sedangkan fosil yang ditemukan oleh warga, kebanyakan bentuknya sebagian besar hancur.
“Fosil semacam ini kan memang harus hati-hati. Cara mengangkat dan memperlakukannya. Bedanya di bentuk, kalau fosil yang ditemukan tim, karena memang sudah ahli dan tahu cara memperlakukannya supaya meminimalisir kerusakan, bentuknya sebagian besar masih utuh. Sedangkan yang ditemukan warga kebanyakan rusak. Karena selain bukan ahli, ya mungkin mereka juga awalnya tidak sengaja menemukan. Waktu nyangkul atau saat berladang, nggak sengaja menemukan,” papar dia.
Oleh karena itu, sejak diberlakukannya pemberitahuan wajib lapor dan penyerahan penemuan fosil purba kepada warga, Taqim mengatakan, jika Museum Patiayam memberikan fasilitas lain. Yakni berupa tim ahli yang akan datang untuk melakukan penyelamatan di area penemuan warga. Selain itu, bagi warga yang menemukan dan menyerahkan fosil akan mendapatkan sertifikat sebagai penemu fosil dan imbalan.
“Makanya, kami mengimbau kepada warga, kalau mereka menemukan fosil semacam ini lebih baik langsung lapor. Nanti dari sini akan diterjunakan tim penyelamat untuk menggali dan mengangkat untuk meminimalisir kerusakan,” ungkap dia.
Besar imbalan yang diberikan dikatakan Taqim tergantung dari beberapa hal. Yakni di antaranya keutuhan fragmen, besar kecilnya fragmen, hingga keunikan bentuk dan kelangkaan fragmen. Setelah itu, fosil yang diserahkan oleh warga maupun tim selanjutnya akan diteliti dan dikonservasi lebih lanjut oleh petugas museum.
Baca juga : Belajar Konservasi Alam Lewat Film Negeri Dongeng
Selanjutnya, fosil yang sudah siap didisplay akan disimpan dan dipajang di lantai 1 museum.
“Untuk ciri-ciri fosil sendiri sebenarnya ada patokan dasar. Karena fosil kan memang kebanyakan di dalam tanah, maka kadang orang awam mengira itu batu biasa atau tulang biasa. Karena proses fosilisasi beratus tahun. Pembedanya dengan batu, kalau fosil itu berpori sedangkan batu biasa itu tidak. Berat masanya lebih ringan dari batu. Lalu, meskipun seringan kayu, fosil jika pukul dia keras seperti batu. Tidak ada bunyi seperti kayu. Lalu misal fragmen gading atau gigi, dia warna putih susu,” papar dia.
Editor : Kholistiono

