BETANEWS.ID, KUDUS – Plt Bupati Kudus HM Hartopo menepis informasi yang selama ini menganggap Covid-19 hanya rekayasa. Terlebih, dirinya tidak membenarkan di Kudus ada pasien yang dibayar untuk mengaku positif Covid-19.
Saat ditemui di Mapolres Kudus dalam kegiatan Launching Ikon Bhabinkamtibmas Candi di Mapolres Kudus, Senin (3/8/2020) kemarin, Hartopo menuturkan dirinya mendengar rumor bahwa terdapat pasien yang dibayar untuk mengaku positif Covid-19. Menurutnya, hal tersebut tidak benar.
Dikatakan, pihaknya memiliki ahli analis yang bekerja untuk mendiagnosa pasien terkonfirmasi positif atau negatif Covid-19. Mereka sudah disumpah dan tidak boleh berbohong.
Baca juga : Ini Alasan Kudus Tidak Terapkan Karantina Wilayah, Meski Kasus Covid-19 Capai 854
“Ahli analis disumpah. Tidak boleh untuk berbicara bohong. Apalagi menginformasikan tidak benar,” tuturnya.
Selain itu, dirinya khawatir, Covid-19 sengaja dibuat isu politik oleh oknum-oknum tertentu. Menurutnya, dalam penanganan Covid-19 pihaknya harus serba hati-hati dan waspada.
“Dengar-dengar pula ada yang bilang Covid-19 sengaja dibuat. Ya dibuat isu politik,” jelasnya.
Hartopo mengakui, peningkatan kasus Covid-19 di Kudus naik signifikan. Per tanggal 5 Agustus 2020, jumlah kasus sejumlah 880. Kudus juga berada di wilayah zona merah dengan penyebaran Covid-19 terbanyak ke empat di Jawa Tengah.
“Saat ini traking masih dilakukan secara masif,” tuturnya yang juga Ketua Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Kabupaten Kudus.
Menurutnya, pihaknya memiliki labolatorium tes swab Real Time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) sendiri. Dengan alat yang dimilikinya, pihaknya mampu melakukan tes sampel dalam sehari yakni 90 sampel.
Baca juga : Soal Pasien Covid Memaksa Pulang, Hartopo: ‘Ini Kejahatan yang Luar Biasa’
“Tidak hanya Kudus saja. Kabupaten luar Kudus juga melakukan tes di sini,” tuturnya.
Selain itu, dengan Kudus sebagai zona merah, pihaknya enggan melakukan karantina wilayah. Menurutnya, Kudus merupakan daerah yang sering digunakan transit masyarakat dari kabupaten lain. Karena secara geografis posisi Kudus berada di tengah-tengah.
“Kudus itu kota tempat transit dan rumah sakit rujukan (Covid-19). Jadi tidak bisa karantina wilayah,” jelasnya.
Editor : Kholistiono

