Ini Alasan Kudus Tidak Terapkan Karantina Wilayah, Meski Kasus Covid-19 Capai 854

BETANEWS.ID, KUDUS – Kasus Covid-19 di Kabupaten Kudus setiap hari mengalami peningkatan. Saat ini, jumlah kasus Covid-19 di Kudus mencapai 854 kasus. Dari jumlah tersebut, 80 orang sedang dirawat, 220 orang melakukan isolasi mandiri, 446 orang sembuh dan 108 orang meninggal.

Sesuai data corona.jatengprov.go.id, Kabupaten Kudus menduduki peringkat keempat sebagai daerah penyebaran Covid-19 terbanyak di Jawa Tengah. Serta menjadi daerah penyebaran terbanyak kedua di eks Karesidenan Pati setelah Kabupaten Jepara.

Selain itu, Kudus juga masih berada di daerah zona merah. Dengan kondisi seperti itu, Plt Bupati Kudus HM Hartopo enggan melakukan karantina wilayah. Menurutnya, aktivitas warga akan terganggu berikut juga dengan kegiatan perekonomian.

-Advertisement-

Baca juga : Alasan Tidak Betah di Rumah Sakit, 14 Pasien Covid-19 di Kudus Memaksa Pulang

Hartopo menjelaskan, Kabupaten Kudus merupakan daerah yang sering digunakan untuk transit. Menurutnya, masyarakat dari kabupaten di eks Karesidenan Pati jika akan pergi ke Semarang akan transit dulu di Kudus. Selain itu, masyarakat yang akan pergi ke Surabaya juga akan melakukan hal sama.

“Kudus itu kota tempat transit. Tidak bisa kita karantina wilayah,” tuturnya Senin (4/8/2020).

Selain menjadi tempat transit, di Kudus terdapat tujuh rumah sakit rujukan Covid-19. Yakni RSUD dr Loekmono Hadi, RS Mardi Rahayu, RSI Sunan Kudus dan RS Kumala Siwi. Selanjutnya, RS Aisyiyah, RS Kurus Syifa dan RS Kartika Husada.

Menurut Hartopo, daerahnya sudah dipercaya untuk menyediakan rumah sakit rujukan bagi pasien Covid-19. Maka sepatutnya, masyarakat yang berasal dari Kabupaten Pati, Jepara, Grobogan dan kabupaten sekitar dipersilakan untuk berobat di Kudus.

“Kita sudah ditunjuk menyediakan rumah sakit rujukan. Kita terima dari Pati, Jepara, Grobogan dari mana-mana,” tuturnya.

Alasan selanjutnya tidak melakukan karantina wilayah, menurut Hartopo karena banyak pekerja asal Kudus yang bekerja di luar. Pun sebaliknya, banyak dari luar Kudus yang bekerja di Kudus.

Menurutnya terdapat sekitar enam ribu pekerja yang harus bolak-balik dari rumah ke tempat kerjanya.

Baca juga : Keseluruhan Pasien Positif Covid-19 di Kudus yang Meninggal Disertai Penyakit Penyerta

“Saya sudah komunikasi, seperti Djarum dan Nojorono. Mungkin pekerja pabrik yang kelas pimpinan sudah ada asramanya. Namun yang pegawai biasa otomatis akan menambah operasional karena menambah fasilitas. Tentu mereka keberatan,” jelasnya.

Dirinya meminta agar masyarakat selalu patuh terhadap protokol kesehatan Covid-19. Selalu mengenakan masker, dan tidak usah keluar rumah bila tidak ada kebutuhan mendesak.

“Kadang kita itu aneh. Jika sendirian masker dipakai. Namun saat ngobrol dengan teman, eh malah maskernya dibuka. Itu kan salah,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER