Demi Anggrek Langka, Firmansyah Rela Berburu Hingga ke Thailand

BETANEWS.ID, KUDUS – Di pekarangan belakang sebuah rumah di Dukuh Karangdowo, Desa Bae, Kecamatan Bae, Kudus tampak kebun beratap paranet. Di dalam kebun tersebut, terlihat ratusan tanaman bunga anggrek. Di antara tanaman anggrek itu, ada seorang pria sedang melayani pelanggan. Pria tersebut yakni Firmasyah Jauhari (48) pemilik dari Griya Anggrek Bae.

Seusai melayani pelanggan, dia pun sudi berbagi kisah tentang dunia usaha anggrek. Dia mengatakan, mulai menekuni dan mendalami dunia anggrek sejak 2005. Namun, dia mengaku gemar dengan tanaman bernama latin Orchidaceae itu sejak remaja.

Firmansyah sedang menujukkan anggrek koleksinya. Foto: Rabu Sipan

“Saya suka sama anggrek itu sejak SMP. Sejak saat itu saya sering beli aneka jenis anggrek,” ujar pria yang akrab disapa Firman kepada betanews.id, Kamis (6/8/2020).

-Advertisement-

Baca juga : Griya Anggrek Bae, Pusatnya Tanaman Anggrek di Kudus

Dia menuturkan, untuk berburu aneka anggrek itu, ia pernah beberapa kali datang ke pameran anggrek di beberapa kota besar. Di antaranya, Semarang, Surabaya, Jakarta dan Bandung. Dari kegemaran beli itu, sehingga koleksi anggreknya pun makin banyak.

“Karena koleksi yang melimpah itu. Kakak saya bilang mending anggrek itu dijadikan bisnis saja,” ungkapnya.

Namun, lanjutnya, ia tidak setuju dengan sistem beli terus jual. Saat itu, Firman lebih suka dengan sistem pembudi daya. Setelah banyak, baru dijual. Karena sistem yang dipilih itu, pada tahun 2005 ia ikut pelatihan budi daya anggrek di Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada (UGM) selama sepekan.

“Di pelatihan itu saya belajar banyak tentang bunga anggrek. Termasuk penyilangan, aklimatisasi bibit, perawatan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit,” bebernya.

Setelah itu, tambahnya, ia mulai budi daya anggrek. Untuk mencari bibitnya, ia mengaku sampai harus berburu bibit anggrek hingga ke Thailand. Dia mengaku, sampai empat kali ke Negeri Gajah Putih untuk mencari tanaman anggrek langka.

“Yang saya buru saat itu anggrek phapiopedium. Anggrek itu tidak ada di Indonesia,” jelasnya.

Dengan bibit aneka jenis anggrek lokal dan impor itu, ia pun makin semangat budi daya anggrek. Namun, karena prosesnya yang panjang, dan merasa jenuh, dia sempat berpaling budi daya adenium. Hingga pada tahun 2012 ada orang yang datang ke kebun anggreknya dan beli beberapa tanaman anggrek.

“Orang tersebut beli anggrek sampai habis Rp 2 juta. Di situ saya berfikir ternyata anggrek ada harganya. Dari situ saya semangat lagi menekuni budi daya anggrek hingga sekarang,” ujarnya.

Baca juga : Inilah yang Membuat Monstera Harganya Selangit, Pantas Saja Banyak Diburu

Dia mengatakan, di Griya Anggrek miliknya menyediakan aneka jenis anggrek, dari anggrek spesies dan hybrid. Ada sekitar 10 jenis tanaman anggrek. Di antaranya, phalaenopsis, phaphiopedium, vanda, rhyncostilis, bulbophyllum, angraicum, encyclia, coelogine, paraphalaenopsis.

Menurutnya, Griya Anggrek Bae itu pusatnya anggrek di Kudus. Banyak jenis anggrek, juga tersedia anggrek dari segala usia. Harganya pun bervariasi. Mulai dari yang termurah Rp 20 ribu hingga jutaan.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER