Mellia Harumi

*Dosen Teknologi Pangan, Unika Soegijapranata, Semarang

Kata jahe akhir-akhir ini sering muncul pada laman internet terutama karena banyak dimaknai sebagai “dewa” penangkal Covid-19. Fakta tersebut sempat membuat harga jahe melambung tinggi, lantaran kebaradaannya diburu masyarakat. Apalagi, konsumsi jahe sudah tidak asing lagi bagi masyarakat tropis Indonesia. Lantas, apakah jahe bisa menangkal Corona?

Jahe (Zingiber officinale Roscoe) sejak dulu dikonsumsi sebagai bumbu maupun obat herbal. Di dalam jahe terkandung serat, karbohidrat, dan vitamin C dalam jumlah yang tinggi. Beberapa vitamin dan mineral juga menyertainya.

Dalam berbagai penelitian, senyawa bioaktif di dalam jahe berfungsi sebagai antioksidan, anti-inflamasi, antimikroba, dan antikanker. Sedangkan komponen antioksidan dalam jahe meliputi senyawa flavonoid, polifenol, dan tannin. Berbagai penelitian lain menemukan jahe dapat menghambat obesitas, diabetes melitus, gangguan pernapasan, serta jantung.

Oleh karena itu, konsumsi jahe secara teratur dapat meningkatkan kekebalan tubuh. Pertahanan tubuh yang baik memungkinkan terhambatnya serangan bakteri dan virus. Termasuk serangan virus Corona di masa kini yang dapat dihambat dengan imunitas tubuh yang baik.

Singh, dkk (2018) melakukan penelitian konsumsi jahe oleh hewan uji. Hasilnya, konsumsi 0,5-1 gram bubuk jahe 2-3 kali sehari selama 3 bulan sampai 2,5 tahun tidak memberikan dampak yang buruk. Dengan demikian, jahe aman untuk dikonsumsi.

Konsumsi jahe yang berlebihan dan di atas dosis dapat menyebabkan efek samping seperti hipotensi. Konsumsi jahe di atas 6 gram per hari dapat menyebabkan pengikisan sel epitel perut (Ozgoli dkk., 2009). Dosis konsumsi jahe untuk ibu hamil adalah di bawah 1 g/hari (Putri dkk., 2017).

Tren konsumsi obat-obatan sebagai penangkal penyakit saat ini mulai tergantikan. Tanaman herbal dengan khasiat sama namun biaya yang murah serta mudah diperoleh menjadi alternatif. Banyaknya kabar baik yang diberikan jahe membuat kita tidak pikir panjang untuk mengonsumsinya. Bagi kita yang ingin terjaga daya tahan tubuhnya, mari mengonsumsi jahe secara rutin.

Referensi :
Adel, S.P.R. dan Prakash, J. (2010). Chemical Composition and Antioxidant Properties of Ginger Root (Zingiber officinale). Journal of Medicinal Plants Research, 4(24), 2674-2679.

Kumar, S., Saxena, K., Singh, U.N., dan Saxena, R. (2013). Anti-inflamantory Action of Ginger: A Critical Review in anemia of Inflammation and Its Future Aspects. International Journal of Herbal medicine, 1(4), 16-20.

Mao, Q.Q., Xu, X.Y., Cao, S.Y., Gan, R.Y., Corke, H., Beta, T., dan Li, H.B. 2019). Bioactive Compounds and Bioactivities of Ginger (Zingiber officinale Roscoe). Food Review, 8(185), 1-221.

Putri, A.D., Andiani, D., Haniarti., Usman. 2017. Efektifitas Pemberian Jahe Hangat dalam Mengurangi Frekuensi Mual Muntah pada Ibu Hamil Trimester I. Prosiding Seminar Nasional IKAKESMADA “Peran Tenaga Kesehatan dalam Pelaksanaan SDGs”, 99-105.

Ozgoli, G., Goli, M., dan Moattar, F. (2009). Comparison of Effects of Ginger, Mefenamic Acid, and Ibuprofen on Pain in Women with Primary Dysmenorrhea. The Journal of Alternative and Complementary Medicine, 15(2), 129-132.

Singh, P., Srivastava, S., Singh, V.B., Sharma, P., dan Singh, D. (2018). Ginger (Zingiber officinale): A Nobel Herbal Remedy. Int.J.Curr.Microbiol.App.Sci, 7, 065-4077.

Tinggalkan Balasan