BETANEWS.ID, JEPARA – Selain mengeluhkan minimnya jumlah pinjaman modal, pengrajin ukiran Gebyok di Desa Blimbingrejo, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara juga mulai jengah dengan persaingan harga gebyok di pasar online.
Salah satu pengrajin gebyok, Muslikan (48), mengaku senang dengan munculnya pasar online sehingga jangkauan pemasaran produknya bisa lebih luas. Saat ini para pengukir di desa tersebut juga banyak yang memasarkan produknya melalui media sosial. Namun, yang jadi malasalah adalah di persaingan harganya.
“Penjualan online pasarnya memang lebih luas, cuma di persaingan online ini saling menjatuhkan harga,” katanya pada Selasa (2/1/2024).
Baca juga: Mulai 2024 Seluruh Objek Wisata di Jepara Bakal Berbayar
Sehingga ia berharap, terdapat aturan yang mengatur agar harga gebyok di tingkat pengrajin maupun di pasar online bisa seragam. Ketika hal tersebut terjadi, akan membuat harga produk tidak hancur ketika di tingkat pembeli.
“Harapannya itu bagaimana harga di pengrajin bisa stabil, di online bisa stabil, tidak saling menjatuhkan harga,” tambahnya.
Selain kendala dalam hal persaingan harga, lanjut dia, pemasaran produk gebyok juga baru menjangkau pasar dalam negeri. Makanya, pengrajin berharap diberikan bekal memasarkan produk ke luar negeri atau ekspor.
Baca juga: Penggantian Kartu Tani ke KTP untuk Pengambilan Pupuk Masih Wacana
“Kita baru cari pasar bagaimana bisa menembus ekspor, mungkin ke Malaysia, atau negara yang lain,” ujarnya.
Namun untuk menuju pasar ekspor, dari para pengrajin di Desa Blimbingrejo, menurutnya, masih terkendala persoalan modal. Jumlah pinjaman modal yang mereka terima belum mencukupi untuk proses produksi sampai barang tersebut siap jual. Rata-rata pengrajin Gebyok di desa tersebut, mengalami kehabisan modal di tengah proses produksi.
“Kita sering kehabisan modal, barang belum jadi, pinjaman sudah habis, barang belum bisa terjual. Sehingga harapannya modal bisa lebih di permudah,” ungkapnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

