Pemkab Jepara Berharap Mahasiswa Ikut Aktif Cegah Kekerasan Gender

BETANEWS.ID, JEPARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara menaruh perhatian khusus guna menekan kasus kekerasan berbasis gender. Demi mewujudkannya, segenap mahasiswa dirangkul untuk bersinergi, termasuk mendukung terwujudnya ruang setara bagi penyandang disabilitas.

Staf Ahli Bupati Jepara Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Muh Tahsin, menjelaskan, persoalan kekerasan berbasis gender tak bisa ditangani secara parsial, karena perlu adanya peran dan kontribusi dari berbagai pihak.

“Harapan saya, teman-teman BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dapat berperan aktif mencegah kekerasan berbasis gender di lingkungan kampus maupun masyarakat,” ujarnya mewakili Penjabat Bupati Jepara Edy Supriyanta, pada Seminar Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Inovasi Unisnu Jepara di Pendapa Kartini, Senin (11/12/2023).

-Advertisement-

Baca juga: Mulai Januari 2024 Tak Ada Lagi Denda Keterlambatan Adminduk di Jepara

Tahsin menyampaikan, persoalan kekerasan gender menjadi salah satu atensi Pemkab Jepara untuk terus diminimalisir. Makanya, kegiatan ini jadi bagian dari upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Ini juga sejalan dengan upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Jepara dalam menangani berbagai persoalan kekerasan berbasis gender,” kata dia.

Ia pun menegaskan, pemerintah daerah akan terus memberikan keberpihakan atas kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial, mulai dari akses pendidikan hingga pekerjaan.

“Tahun ini, sudah dirintis sekolah inklusi. Mengakomodir anak-anak yang berkebutuhan khusus tidak harus sekolah di SLB,” tuturnya.

Baca juga: Pj Bupati Jepara Apresiasi 20 Desa yang Diusulkan jadi Desa Antikorupsi pada 2024

Dalam seminar yang diikuti oleh peserta dari BEM se-Jawa Tengah itu, tampak hadir Rektor Unisnu Jepara Sadullah Assaidi, dan sederet narasumber kompeten. Diawali oleh Staf Khusus Menteri Ketenagakerjaan Hindun Anisah, membahas mengenai perlindungan pekerja perempuan dari kekerasan seksual di tempat kerja.

Pemateri berikutnya ialah Komisioner Komnas Disabilitas Fatimah Asri Mutmainnah. Ia mengupas tantangan perempuan disabilitas dalam melawan kekerasan dan diskriminasi. Selanjutnya ada Dosen Fisip UIN Walisongo Semarang Nur Hasyim, dengan materi peran mahasiswa dalam melawan kekerasan berbasis gender, dan mendukung ruang aman dan setara. (adv)

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER