BETANEWS.ID, KUDUS – Bakti Lingkungan Djarum Foundation turun tangan membantu mengatasi masalah sampah di Kudus dengan membangun mesin pengolah sampah organik. Tak tanggung-tanggung, mesin yang berada di Djarum Oasis Kretek Factory itu mampu hasilkan 50 ton pupuk kompos dalam sehari.
Vice President Director Djarum Foundation, FX Supanji, mengatakan, divisi pengolahan sampah organik ini dibentuk pada 2018. Tujuannya untuk mengurangi jumlah sampah organik yang masuk ke TPA Tanjungrejo.
“Hasil riset kita dan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kudus, ternyata sekitar 75 persen sampah yang masuk ke TPA adalah sampah organik. Padahal sampah organik ini kan masih bisa dimanfaatkan menjadi kompos,” ujarnya, belum lama ini.
Baca juga: Djarum Foundation Siap Lakukan Reboisasi di Wonosoco untuk Cegah Banjir Bandang
Di divisi pengolahan sampah organik itu, ungkapnya, terdapat tim yang bertugas mengambil sampah organik di beberapa wilayah Kudus. Ada pula yang diantar sendiri ke tempat pengolahan sampah organik tersebut.
“Misalkan PLN atau Dinas PKPLH merimbas pohon, itu sampahnya langsung dikirim ke sini. Karena sekarang sampah organik tidak boleh masuk ke TPA lagi,” bebernya.
Selain itu, kata dia, di 2023 pihaknya sudah mempunyai lebih dari 300 mitra yang mau memilah sampah yang punya nilai ekonomi dan sampah organik.
“Nan, sampah organiknya itu kami ambil untuk diolah ke pusat pengolahan sampah organik ini. Total sampah organik yang diproses di pengolahan sampah BLDF saat ini 20 ton per hari,” ungkapnya.
Sampah organik yang masuk, kata dia, kemudian disortir melalui mesin terutama yang ada di dalam karung. Hal itu untuk memastikan tak ada campuran besi atau sampah lainnya. Sementara ranting pohon dan dedaunan langsung dilakukan pencacahan menggunakan mesin.
Baca juga: Selamatkan Lingkungan dari Krisis Iklim, Djarum Foundation Tanam Jutaan Pohon
“Hasil cacahan itu lalu kita campur dengan sampah makanan. Kita tambahkan dengan material lain, seperti kotoran ayam, arang, dan lainnya. Semua bahan kemudian masuk ke mixing. Selama proses mixing itu kita semprotkan air yang sudah dicampur bakteri,” bebernya.
Setelah itu, lanjutnya, ditampung truk terus ditaruh di lahan fermentasi dan ditutup selama 6 bulan. Jadilah pupuk kompos yang siapa digunakan untuk pemupukan.
“Total per hari kita bisa menghasilkan 50 ton pupuk kompos. Untuk hasil komposnya kita gunakan untuk program penghijauan kami. Serta dibagikan kepada masyarakat yang ada program penanaman pohon,” imbuhnya.
Editor:Ahmad Muhlisin

