BETANEWS.ID, KUDUS – Ferry Andrianto (24) sore itu terlihat sedang sibuk melakukan pekerjaannya di kedai kuliner Jepang yakni Konyubi. Sesekali ia juga terlihat mendatangi bawahannya dan memberikan masukan. Di kedai yang berada di Jalan RA Kartini No 128, Desa Burikan, Kecamatan/Kabupaten Kudus itu memang selalu ramai dan menjadi jujugan pembeli yang suka dengan masakan Jepang.
Usai menyelesaikan pekerjaannya, Ferry kemudian berbagi kisahnya kepada Betanews.id. Ia menuturkan, sebelum merintis usaha kuliner, ia sempat belajar Bahasa Jepang, lantaran dulu ia pernah memimpikan bekerja di Jepang.

“Dulu pernah sekolah Bahasa Jepang, pernah mau magang di Jepang. Karena prosesnya lama dan beberapa kali ujian gagal, kemudian diajak sepupu untuk merintis usaha kuliner,” beber Ferry, Manajer Konyubi, Kamis (23/11/2023).
Baca juga: Cerita Taufik, Awalnya Bantu Tetangga Jualan, Sekarang Punya Gerobak Sendiri
Ia menjelaskan, berawal dari sepupunya yang menjadi dokter mempunyai keinginan untuk membuat usaha kuliner. Menurutnya, founder usaha masakan ala Jepang itu hobi dengan makanan Jepang dan sering jajan di Semarang.
“Pertama bangun usaha resto di Pati dengan nama Hanami pada 2021. Di sana ada tiga orang, salah satunya saya untuk mengembangkan usaha itu. Pertama kali buka, respon dan antusiasme masyarakat Pati cukup bagus, sehingga satu tahun setelahnya bangun di Kudus,” ungkapnya.
Saat buka resto Hanami di Kudus, kata Ferry, juga respon masyarakat Kudus bagus. Bahkan, antusiasme pembeli lebih bagus di Kudus, sehingga 15 September 2023, pihaknya mengembangkan usaha kuliner lagi dengan nama dan konsep yang berbeda.
Baca juga: Sering Dipandang Negatif Karena Bertato Jadi Semangat Natalia Dirikan Dapure Mba’Berto
“Karena melihat masyarakat Kudus yang sangat antusias, kemudian kita mengembangkan usaha kuliner masakan Jepang dengan nama Konyubi. Kita saat ini juga tahap pembangunan di Pati untuk buka Konyubi Pati,” terang anak sulung dari dua bersaudara tersebut.
Dengan usaha saat ini yang ia jalankan, mampu menjual ratusan porsi setiap harinya. Sehingga, saat ini ia tak lagi kepincut untuk bekerja di Jepang.
“Kalau saat ini mau ke Jepang, inginnya ya liburan bukan lagi kerja,” imbuhnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

