BETANEWS.ID, DEMAK – Memasuki masa tanam padi (MT 1), sejumlah petani di Kabupaten Demak nekat menanam padi di tengah kondisi debit irigasi sungai mengalami penyusutan lantaran pengaruh kemarau panjang.
Diberitakan sebelumnya, Dinas Pertanian dan Pangan (Dinpertanpangan) Demak menginformasikan, bahwa masyarakat dapat menggunakan air untuk kebutuhan pertanian, setelah seminggu digelontorkan air dari Waduk Kedungombo, pada tanggal 15 September lalu. Akan tetapi, sampai awal Oktober petani di Demak belum bisa melakukan MT 1.
Baca Juga: Adakan Kelas Batik, Alfa Shoofa Ingin Anak Panti Asuhan Bisa Kembangkan Batik
Sugiyo (52) petani di Desa Ngemplik Wetan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, mengaku baru bisa membajak sawah setelah air diambil dari saluran Kali Jratunseluna seminggu yang lalu. Meskipun dengan kondisi tanah yang terairi, kebutuhan air pertanian warga belum tercukupi.
“Jelas airnya kurang, kecuali kali mengalir terus. Ini saja Kali Jratunseluna sedalam sekitar 30-40 sentimeter, gak bisa ngalir. Istilahnya uji coba dulu hasilnya bagaimana. Ini kok nanti kering ya molor lagi, ” katanya, Senin (2/9/2023).
Menurutnya, letak sawah yang berdekatan dengan sumber air, menjadi keberuntungan sendiri bagi petani. Petani menyedot air dengan jarak hanya 15 meter untuk bisa mengairi persawahan.
“Bulan sembilan biasanya sudah pada tanam, sekarang saja masih pada kering. Airnya susah baik, ini saja karena dekat dengan sumber air, apalagi yang jauh dari kali, ” ujarnya.
Jika Kali Jratunseluna mengalami kekeringan kembali, Sugiyo khawatir lahan seluas 2,5 hektare yang digarap gagal panen. Begitu juga dengan Mulyono (52) petani Desa Undaan Lor 1, Kecamatan Karanganyar yang resah jika 4 hektare sawahnya terancam tidak bisa ditanami padi. Keterbatasan air, membuat petani berebut untuk mendapatkan pengairan sawah.
“Mengkhawatirkan ini tidak ada air tidak ada hujan, kondisi sawahnya ya seperti ini, kering tanahnya. Ini saja sudah dibagi klambu kanan dan klambu kiri tapi tidak cukup,” ujarnya.
Baca Juga: Peringati Hari Batik Nasional, Alfa Shoofa Buat Kelas Batik di LKSA Kudus
Mulyono tidak ingin, sawahnya menganggur kembali setelah sebulan terpaksa dibiarkan mengering. Saat ini ia hanya bisa berharap pertaniannya selamat dan bisa panen tepat waktu.
“Kalau seperti ini ya petani gak bisa panen. Sekarang saja baru bisa tanam bibit usia tujuh hari. Hitungannya ya sudah molor sebulan, seharusnya sudah tanam padi,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

