BETANEWS.ID, DEMAK – Warga Desa Raji, Kecamatan/Kabupaten Demak, menjadi langganan kekeringan saat musim kemarau. Akibatnya, ribuan warga di desa tersebut punya pengeluaran ekstra untuk membeli air.
Desa yang memiliki 1.500 kepala keluarga (KK) itu mengandalkan Kali Afur untuk sumber pengairan. Namun, sumber air kini menyusut karena musim kemarau yang panjang.
Salah satu warga, Reni, mengaku kesulitan air ketika memasuki musim kemarau. Untuk mendapatkan air, dia terpaksa membeli air isi ulang seharga Rp7 ribu per jeriken sebanyak enam jeriken setiap harinya.
Baca juga: Bupati Demak Terjun Langsung Kirim Bantuan Air Bersih ke Desa Terdampak Kekeringan
“Pokoknya susah, mau cuci itu tidak ada air, karena air itu kebutuhan banget lah,” terang Reni saat ditemui, Jumat (22/9/2023).
Kepala Desa Raji, Muhammad Basor, mengatakan, kekeringan dirasakan warga sejak dua bulan lalu. Akibatnya, warganya harus membeli air untuk keperluan rumah tangga.
“Untuk satu rumah tangga itu kira-kira sepuluh jeriken. Jadi setiap warga harus rela mengeluarkan uang Rp30 ribu. Kalau dikalikan jumlah rumah tangga 1.000, satu bulannya Rp30 juta, ” bebernya.
Warga juga ada memanfaatkan pamsimas sebagai sumber pengairan. Namun, karena kondisi air yang payau, hanya bisa digunakan untuk mandi, cuci, dan kaskus (MCK).
Baca juga: 32 Kabupaten di Jateng Alami Kekeringan, Blora dan Demak Paling Parah
“Sementara ini saya sambungkan dengan artesis meskipun tidak bisa dikonsumsi. Sementara untuk MCK saja, itu pun belum semua ter-cover,” paparnya.
Untuk mencukupi kebutuhan air masyarakat, saat ini pihaknya berupaya meminta bantuan dropping air ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Demak.
“Hari ini BPBD lewat pemerintah kabupaten mengantar tujuh tangki. Semoga ini bermanfaat bagi masyarakat Desa Raji,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

