SEPUTARKUDUS.COM, Kajeksan – Di Kelurahan Kajeksan RT 1, RW 1, Kecamatan Kota, Kudus tampak sebuah rumah bercat warna hijau. Di teras rumah terlihat seorang pria mengenakan kaus oblong warna coklat sedang sibuk mengoleskan lem pada alas sandal berwarna hitam. Seusai diolesi lem alas sandal tersebut kemudian dijemur. Pria tersebut yakni bernama Supa’at (60), pembuat sandal dan sepatu khusus perempuan.
Sembari melanjutkan aktivitasnya tersebut, Supa’at sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, mulai merintis usaha pembuatan sandal dan sepatu perempuan sejak tahun 1980. Namun sebelumnya, dia mengaku kerja di perusahaan yang memproduksi alas kaki untuk perempuan di Semarang.
Baca juga: Jelang Lebaran, Permintaan Sepatu dan Sandal Hand Made Karya Supa’at Terus Meningkat
“Aku bekerja selama lima tahun. Setelah aku merasa bisa dan menguasai cara membuat sandal maupun sepatu perempuan aku memutuskan keluar. Karena aku ingin punya usaha sendiri meski kecil-kecilan dan tida kerja terus ikut orang lain,” ujar Supa’at kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.
Warga Kerjasan, Kota, Kudus itu mengatakan, saat itu dirinya langsung mempekerjakan satu orang untuk membatunya memproduksi sepatu dan sandal khusus perempuan. Menurutnya, sandal dan sepatu hasil produksinya tersebut kemudian ditawarkannya ke para pedagang di Pasar Kliwon Kudus.
“Alhamdulillah respon para pedagang di Pasar Kliwon Kudus bagus. Dan setiap hari aku bersama satu orang pekerja saat itu mampu memproduksi sepatu da sandal sebanyak 20 pasang setiap harinya. Dan setiap hari juga aku pasti mengirim sandal da sepatu tersebut ke Pasar Kliwon dengan sistem pembayaran cash atau kontan,” ungkapnya.
Pria yang dikaruniai dua anak tersebut menuturkan, usaha pembuatan sandal yang terbuat dari bahan imitasi tersebut meraih puncak kesuksesan pada tahun 2000. Pada saat itu dia mengaku mampu mempekerjakan 12 orang dan mampu produksi 100 pasang sandal dan sepatu sehari. Menurutnya, saat itu pelanggannya tidak hanya pedagang di Pasar Kliwon, melainkan juga banyak yang berasal dari lain daerah.
Saat itu dirinya juga punya pelanggan pedagang di satu pasar di Semarang, Kendal, Pekalongan, Magelang, bahkan hingga Bali. Kesuksesan tersebutnya bertahan sekitar 10 tahun. Pada tahun 2010 order pemesanan sandal dan sepatu produksinya mulai menurun, bahkan terbilang sepi. Karena itulah para pekerjanya mulai keluar satu demi satu dan akhirnya tidak tersisa satupun.
“Saat itu sandal dan sepatu hasil produksiku kalah bersaing dengan sandal dan sepatu impor yang harganya lebih murah. Karena tidak ingin hanya meratapi nasib, meski sepi order dan tidak punya karyawan aku tetap membuat sandal dan sepatu perempuan. Dan sandal maupun sepatu hasil karyaku, aku tawarkan kepada para pedagang di satu pasar di Semarang dan Kendal,” ujarnya.
Dia bersyukur, karena usahanya tersebut tidak sia-sia dan sandal maupun sepatu buatannya dibeli para pedagang di beberapa pasar di Semarang dan Kendal. Bahkan ada yang berlangganan hingga sekarang. Meskipun kata dia, mengambilnya para pedagang tersebut tidak banyak. Tapi setidaknya sepekan sekali dia mengaku bisa menjual sekitar 100 pasang sandal dan sepatu hasil karyanya.
“Meski penuh liku usaha pembuatan sandal dan sepatu miliku masih bertahan hingga sekarang. Aku juga bersyukur karena dengan usahaku ini aku mampu menyekolahkan kedua anaku hingga jadi sarjana dan sekarang mereka sudah kerja dan punya keluarga,” ungkapnya.

