BETANEWS, DEMAK – Puncak musim kemarau yang terjadi di bulan Agustus ini membuat kekeringan di Kabupaten Demak semakin meluas. Kekeringan yang semula hanya ada di beberapa desa kini menyebar hingga 62 desa.
Kabid Kedaulatan Logistik dan Peralatan BPBD Demak Suprapto mengatakan, pada Senin, (7/8/2023) lalu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak memperkirakan terdapat 58 desa yang akan terdampak kekeringan saat kemarau. Namun, pada Selasa (22/8/2023) jumlah itu bertambah hingga 62 desa.
Baca Juga: Ganti Rugi Pembebasan Tanah Tol Semarang-Demak Mulai Diproses
Sedangkan perluasan wilayah yang mengalami kekeringan berada di Kecamatan Mranggen, Dempet, Kebonagung, Wedung, dan Demak Kota. Ia menyebut wilayah terparah berada di Kecamatan Wedung.
“Untuk saat ini Wedung, karena PDAM untuk sumber air itu mengalami pengasinan karena rob menyebar ke sumber warga,” ujarnya saat melakukan dropping air di Desa Ruwit, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak.
Saat ini bantuan dropping air di BPBD Demak tersisa 197 tangki dari 332 tangki.
“Kalau menurut ramalan El Nino itu akan terus berlanjut hingga bulan September hingga Oktober,” paparnya.
Baca Juga: Harga Belum Ditetapkan, Pembebasan Lahan Warga Bedono Demak untuk Tol Tetap Dilakukan
Ia menjelaskan faktor kekeringan yang melanda masyarakat kebanyakan terjadi lantaran sumber air menyusut dan berubah rasa.
“Banyak beberapa desa yang mengalami kesulitan air bersih, ini ada dua kendala di Kabupaten Demak karena sumber mata air mengering dan sungai kemasukan air laut,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

