BETANEWS.ID, SEMARANG – Dalam diskusi sastra yang digelar Maring Institut di Kafe Maringopi, Tlogosari Kulon Semarang pada Senin malam (31/7), penulis Okky Madasari mengungkapkan bahwa lewat karya sastra, seorang penulis dapat melakukan kritik dengan “aman.” Penuturan Okky tersebut sebagaimana tema diskusi yang mengangkat “Lewat Sastra Mengkritik Realitas Sosial.”
Diskusi ini dihadiri puluhan anak muda yang terutama berkecimpung dalam dunia sastra. Dalam diskusi ini juga menampilkan perform pembacaan puisi karya Okky oleh Imaniar Yordan Christy dari Komite Sastra Dewan Kesenian Semarang (Dekase). Selain itu, Imran Amirullah juga tampil dalam perform musik akustik.
Okky yang juga sempat menjadi seorang jurnalis di sebuah media massa mengatakan, demokrasi dalam konteks kebebasan berekspresi dan berpendapat dalam masa sekarang masih jauh api dari panggang. Ini sebagaimana masih banyaknya perlakuan represif oleh penguasa terhadap para pengkritiknya.
Baca juga: Perjalanan 86 Tahun, Ngesti Pandowo Jadi Kelompok Kesenian Wayang Orang Melegenda
Okky menambahkan, kendati represifitas terhadap kebebasan berekspresi tidak berpola sama saat Orde Baru berkuasa, namun setidaknya di masa kini banyak instrumen yang mendukung hal sama. Seperti di antaranya UU ITE maupun pasal penistaan agama.
Okky sendiri mengatakan keprihatinannya atas censorship yang terjadi di media sosial. Menurutnya, media sosial seharusnya menjadi media berekspresi bagi masyarakat. Akibatnya, masyarakat lebih banyak diliputi ketakutan dalam berekspresi di media sosial. Belum lagi, Okky menambahkan, maraknya buzzer yang beberapa di antaranya menggunakan akun anonim, menambah ruang ketakutan bagi masyarakat.
Baca juga: Minimnya Literasi Bagi Anak di Jepara, Dorong Daifa Ciptakan Komik Ratu Kalinyamat
Lanjutnya, Okky mengutarakan, dirinya merasa percaya bahwa lewat karya sastra, seorang penulis dapat lebih leluasa mengekspresikan kegelisahan, kesedihan, atau kemarahannya atas realitas sosial. Ini terlebih sastra adalah karya yang berbasis fiksi. Menurutnya, karya sastra relatif tidak bisa disensor. Terlebih sejak 1998, tidak ada lagi lembaga atau badan yang memiliki kewenangan melakukan sensor buku.
“Saya sangat percaya, sastra dapat mempengaruhi kesadaran. Tidak tiba-tiba ada perubahan. Tapi pembaca dapat mempunyai cara pandang baru.
Mereka yang selanjutnya akan jadi penggerak perubahan. Itu yang tdk bisa dilakukan lewat karya akademik atau media massa,” tutur Okky.
Editor: Ahmad Muhlisin

