BETANEWS.ID, DEMAK – Kurang lebih sudah sepuluh tahun, Juwariah (50) mengais eceng gondok di sungai Weding, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak. Meskipun dengan menahan rasa sakit yang berpusat di kakinya, dia tetap semangat dan tekun dengan pekerjaannya.
Tumbuhan gulma air yang tumbuh lebat di wilayahnya, ia manfaatkan untuk menjadi lahan mencari rezeki.
Baca Juga: Bupati Demak Minta Masyarakat Lapor Jika Ada Pungutan Liar di Sekolah
Tak bisa bercocok tanam karena faktor kesehatan tak membuat Juwariah berhenti dari kegiatannya itu. Ia mengaku, tidak suka menganggur dan terus produktif mengais pundi-pundi rupiah lewat eceng gondok.
“Lah gimana? Mau bertanam tidak bisa, mau kerja di sawah tidak bisa, karena kakinya sakit. Kalau dulu masih bisa, daripada nganggur mending kerja seadanya,” katanya, Jumat (21/7/2023).
Setiap harinya, ia bisa mengumpulkan tiga sampai dengan tiga belas ikat eceng gondok. Hasil dari mengaisnya itu, kemudian ia keringkan dan dikumpulkannya ke pengepul untuk dijual kembali ke kota-kota besar, seperti Salatiga dan Yogyakarta.
“Setelah diambil, dipilih batang yang panjang terus dikeringkan dipisahkan dari daunnya. Kadang dikepang dulu sebelum dijual, sebisanya saja,” imbuhnya.
Meskipun pendapatan tidak seberapa, Juwariah dengan giat mengumpulkan eceng gondok. Apalagi musim kemarau seperti ini, eceng gondok akan mudah kering dan cepat disetorkan ke pengepul.
Baca Juga: Diyakini Bawa Keberuntungan, Makam Raden Sawunggaling Ramai Saat Musim Pilkades
“Kalau musim panas kayak gini bisa cepat keringnya. Paling 10 hari sudah kering, pas musim hujan malah susah rugi keringnya lama bisa sampai sebulan,” terangnya.
Menjual eceng gondok kering, Juwariah dapat menghasilkan uang Rp6-7 ribu per kilogram. Karena banyaknya pesaing, harga eceng gondok mengalami penurunan. Ia menceritakan, dulunya bisa menjual Rp10 ribu per kilogram.
Editor: Haikal Rosyada

