Melihat Prosesi Grebeg Suro Girikusumo

BETANEWS.ID, DEMAK – Siang itu, setelah pelaksanaan salat Zuhur para santri berkumpul di depan Yayasan Kyai Ageng Giri Pesantren Girikusumo, Desa Banyumeneng, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak. Sejumlah gunungan hasil bumi dan pembawa ambengan turut berjejer menunggu aba-aba persiapan kirab.

Sebelum kirab Grebeg Suro dimulai, pasukan patang puluh kendi kasepuhan Girikusumo melakukan prosesi penyerahan, secara berurutan oleh putra dari KH Muhammad Munif Zuhri, Gus Nabil. Setelah itu, para petugas dari ahli waris yang ditunjuk membawa empat peti pusaka ke makam leluhur.

Baca Juga: KKP Bantah Wacana Pengerukan Pasir Laut Morodemak

-Advertisement-

Adapun empat peti pusaka yang dimaksud berisi jubah-jubah pengasuh terdahulu, diantaranya KH Muhammad Hadi bin KH Muhammad Tohir, KH Muhammad Zahid bin KH Muhammad Hadi, KH Zaenuri bin KH Muhammad Hadi, dan KH Muhammad Zuhri bin KH Muhammad Zahid.

Setelah melakukan kirab, empat gunungan dan ambengan diberikan kepada para santri dan masyarakat sekitar. Begitu juga dengan air kendi yang dipercaya masyarakat membawa keberkahan.

Putra KH Muhammad Munif, Gus Hanif Maimun, mengatakan kirab Grebeg Suro Girikusumo dilakukan secara rutin untuk memperingati tahun baru IsIam, atau 1 Muhamarram. Hal itu dilakukan secara turun-temurun dengan harapan masyarakat mendapatkan keberkahan dalam satu tahun ke depan.

“Sebenarnya perayaan tahun baru Hijriyah di Yayasan Kyai Ageng Giri ini hanya menyelenggarakan pagelaran persamu yang diikuti oleh keluarga pondok pesantren. Akan tetapi ada dawuh, agar melestarikan nilai-nilai budaya, ” katanya, Selasa (18/7/2023).

Tidak hanya itu, adanya Grebeg Suro juga memberikan sodakoh kepada para santri dan masyarakat setempat, berupa empat gunungan hasil bumi dan satu gunungan nasi kuning.

“Selain Grebeg Suro, untuk memperingati kasepuhan yang ada di sini, dan juga untuk wujud syukur dan memberikan sodakoh kepada yayasan dan pesantren,” imbuhnya.

Baca Juga: Komisi IV DPR RI Harapkan Demak Bisa Tekan Pengambilan Kedelai Impor

Sedangkan air kendi yang dibawa pasukan patang puluh, diambi dari sumber air peninggalan KH Muhammad Hadi bin KH Muhammad Tohir, yang sudah dibacakan doa-doa sebelum pelaksanaan kirab.

“Itu kita ambilkan dari sumur Simbah Buyut Muhammad Hadi, yang malam sebelum kirab itu sudah dibacakan mujahadah bersama-sama oleh yayasan dan pondok pesantren, sehingga harapannya bisa bertawasul membawa berkah,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER