BETANEWS.ID, KUDUS – Kepala Sekolah SD 4 Ploso Kudus, Nur Khabib, mengklarifikasi terkait pemberitaan salah satu media yang menganggap pihaknya memaksa satu siswanya bernama Muhammad Ajib untuk pindah ke Sekolah Luar Biasa (SLB). Nur Khabib juga menegaskan, SD 4 Ploso tak arogansi.
Khabib mengungkapkan, beberapa hari yang lalu pihak SD 4 Ploso memang menyarankan agar Muhammad Ajib dipindah ke SLB. Sebab, pihaknya melihat anak tersebut komunikasinya sulit.
Baca Juga: 13 Ribu Orang Berobat ke RSUD Kudus Sebulan, Gaya Hidup Warga Tak Sehat?
“Jadi tidak hanya tak bisa menulis dan membaca, tapi komunikasinya sulit ketika di sekolah. Ketika ditanya guru itu suaranya tidak keluar, walaupun tidak tuna rungu,” ujar Khabib kepada Betanews.id saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (11/7/2023).
Karena hal itu, ia pun juga menyarankan kepada guru kelasnya agar cek psikologi siswa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Loekmono Hadi Kudus. Dalam pemeriksaan hasilnya normal, meski kenyataanya komunikasinya sulit.
“Ternyata dari pihak SLB melihat data dari RSUD yang keadaa bocah itu normal sehingga tidak bisa menerima. Dan, Muhammad Ajib dikembalikan ke SD 4 Ploso lagi,” bebernya.
Hingga akhirnya, kata dia, Selasa pekan lalu SD 4 Ploso menerima kembali Muhammad Ajib sebagai siswa. Namun, tetap dengan catatan yakni rekomendasi dari SLB bahwa Muhammad Ajib harus mendapatkan terapi dari rumah sakit terkait komunikasinya.
“Kami juga sudah ketemu dengan orang tuanya Muhammad Ajib dan mereka menyanggupi. Tetap sekolah di SD 4 Ploso dengan catatan Muhammad Ajib diterapi terkait komunikasinya,” ungkapnya.
Untuk biaya terapi komunikasi, ungkap Khabib, bisa menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS). Sehingga tidak memberatkan orang tua Muhammad Ajib.
“Sudah kita komunikasikan terkait terapi ke rumah sakit bisa pakai Kartu Indonesia Sehat (KIS). Jadi tidak memberatkan,” jelasnya.
Guru wali kelas 1 SD 4 Ploso Ika Rohmaida menambahkan, bahwa Muhammad Ajib saat ini berusia sembilan tahun. Masuk ke SD 1 Ploso pada tahun lalu. Selama setahun mengajar Muhammad Ajib, memang yang bersangkutan mengalami kendala dalam komunikasi.
“Contoh ketika ditanya nama, jawabnya itu tidak jelas. Setahun sekolah itu belum bisa membaca, bahkan huruf abjad A sampai Z paling hafal hanya tujuh huruf saja,” ujarnya masih di lokasi yang sama.
Pada awal masuk sekolah di SD 4 Ploso, Muhammad Ajib juga tak bisa menulis. Tapi jelang kenaikan kelas yang bersangkutan sudah bisa menulis.
Baca Juga: CLBK dan Medsos, Biang Keladi Ratusan Istri di Kudus Gugat Cerai Suami
“Muhamad Ajib memang tidak sekoah TK sebelumnya. Karena belum bisa membaca itu, Muhammad Ajib tak bisa naik ke kelas dua,” bebernya.
Sebenarnya selama mengajar Muhammad Ajib, ia sudah memberikan pelajaran tambahan dan bimbingan khusus agar yang bersangkutan bisa mengejar ketertinggalannya. Namun belum membuahkan hasil yang maksimal.
Editor: Haikal Rosyada

