Hitung-hitungan Bisnis Batu Bata ala Jamsudi, Berani Sewa Lahan untuk Untung Besar

BETANEWS.ID, KUDUS – Jenius, adalah kata yang pas untuk menggambarkan pemikiran bisnis Jamsudi. Pembuat batu bata tersebut mampu dengan matang memperhitungkan segalanya, mulai dari sewa lahan hingga biaya operasional, sehingga untung bisa maksimal.

Tatanan batu bata tampak tersusun rapi di lahan luas yang berlokasi di desa Pulutan, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Sejumlah orang tampak sibuk menyiapkan tanah untuk dicetak menjadi batu bata.

Baca Juga: Sarung Batik Al Juwani, Produk Lokal Tembus Pasar Internasional

-Advertisement-

Jamsudi (63) mengaku, lahan yang saat ini digunakan untuk produksi batu bata itu merupakan lahan sewa. Dia bersama teman-temannya menyewa dari pemilik lahan pertanian, kemudian dibagi per blok tanah.

“Lahan ini disewa selama dua tahun dengan harga Rp 18 juta, dan lahannya digunakan delapan orang. Harga per blok tanah berkisar Rp 2 juta hingga Rp 5 juta tergantung luas tanahnya,” ujarnya.

Meski tak punya lahan, Jamsudi sudah memperhitungkan bisnis tersebut, sehingga ia berani menyewa lahan dan terjun bisnis batu bata. Menurutnya, sekali proses produksi batu bata membutuhkan modal setidaknya Rp 5 juta.

“Satu colt kayu Rp 500 ribu sekaligus penggergajian. Satu colt sekam padi Rp 500 ribu. Untuk proses pembakaran 15.000 batu bata memerlukan tiga atau empat kuli untuk penataan. Biasanya upah yang diberikan Rp 200 ribu untuk proses pembakaran sekaligus penataan,” terangnya.

Menurut perhitungan Jamsudi, dalam sehari dua orang karyawan dapat menyelesaikan 1000 batu bata. Kemudian dia jual dengan harga Rp 800 ribu.

“Kalau pemesanan banyak seperti 10.000 batu bata ya harganya Rp 8 juta. Dengan rincian potongan untuk bayar sewa kuli pembakaran dan penataan batu bata sekitar Rp 6 juta. Jadi keuntungan saya sekitar Rp 2 juta,” bebernya saat ditemui beberapa hari lalu.

Baca Juga: Pengrajin Mainan Anak Ekspor Jepara Belum Sejahtera

Jamsudi juga menambahkan, bahwa tidak sulit mencari lahan sewa di sana. Menurutnya, tanah yang awalnya hanya bisa ditanami palawija, setelah digunakan sebagai proses pembuatan batu bata dapat ditanami padi.

“Sehingga banyak petani yang menyewakan lahannya untuk pembuatan batu bata. Jadi kami tidak kesulitan mencari lahan sewanya,” tambah Jamsudi.

Penulis: Anita Purnama Sari, Mahasiswa Magang UMK

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER