BETANEWS.ID, KUDUS – Indonesia menjadi negara dengan kasus bibir sumbing terbanyak ketiga di dunia. Setiap tahun setidaknya ada delapan ribu anak Indonesia yang lahir dengan bibir sumbing.
Country Manager Smile Train Indonesia, Deasy Larasati, membeberkan, di Indonesia setiap tahunnya ada sekitar 3-4 juta kelahiran. Sementara data di Benua Asia, dari 700 kelahiran pasti ada satu bayi yang terlahir dengan bibir sumbing.
“Jadi, kalau melihat dari jumlah kelahiran di Indonesia rata-rata 3-4 juta per tahun, berarti ada sekitar 7 ribu sampai 8 ribu anak yang terlahir dengan bibir sumbing per tahunnya. Jumlah tersebut merupakan terbanyak ketiga di dunia,” ujar Deasy saat di Rumah Sakit Aisyiyah Kudus, Sabtu (8/7/2023).
Baca juga: Polytron Kembalikan Senyum Menawan 18 Penderita Bibir Sumbing dan Langit-Langit
Sebagai Non-Governmental Organization (NGO) Internasional yang fokus di bibir sumbing dan langit-langit sejak 2002, setiap tahunnya rata-rata Smile Train melakukan operasi bibir sumbing sebanyak 7-8 ribu bibir sumbing dan langit-langit.
“Sejak tahun 2002 hingga Maret 2023 kami sudah melakukan 110 ribu operasi bibir sumbing di Indonesia. Dan, Tahun lalu kami merayakan sudah melakukan 100 ribu operasi bibir sumbing,” ungkapnya.
Dia mengungkapkan, bayi yang terlahir dengan bibir sumbing sebetulnya bukan sebuah kutukan, serta tidak ada hubunganya dengan mitos. Namun, siapa pun seorang perempuan yang hamil beresiko bayinya lahir dengan bibir sumbing.
“Sebab, sampai saat ini belum diketahui penyebab utama bayi bisa terlahir dengan bibir sumbing,” ungkapnya.
Baca juga: Kudus vs Stunting, Siapa Bakal Menang?
Deasy mengatakan, bibir sumbing dan langit-langit bisa sembuh jika dilakukan operasi pada waktu yang tepat, yaitu saat bayi berusia tiga bulan dengan berat badan lima kilogram.
“Jika tertangani tepat waktu, maka risiko untuk bicaranya yang tidak bagus itu bisa jadi bagus. Karena sebelum anak tersebut mulai berbicara celah langit-langit mulutnya sudah tertutup. Sehingga anak itu akan bisa berbicara secara normal karena telah celah langit-langitnya sudah tertutup,” jelasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

